Manfaat Sunat: Cegah Kanker Prostat Sampai Infeksi Saluran Kemih

Manfaat Sunat: Cegah Kanker Prostat Sampai Infeksi Saluran Kemih

- detikHealth
Sabtu, 26 Jul 2014 10:09 WIB
Manfaat Sunat: Cegah Kanker Prostat Sampai Infeksi Saluran Kemih
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Bagi pria Muslim, sunat merupakan hal yang wajib dilakukan. Meski begitu, beberapa tahun terakhir sunat juga mulai dilakukan di beberapa negara Barat.

Seiring dengan berjalannya waktu, sunat tak hanya memberikan penanda kedewasaan pada pria, tetapi juga memiliki manfaat lainnya. Seperti dirangkum detikHealth, Sabtu (26/7/2014), berikut beberapa manfaat dari sunat:



1. Menghindari Kanker Prostat

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Penelitian yang dilakukan di Kanada mengatakan bahwa kemungkinan besar sunat atau khitan dapat mengurangi risiko terserang kanker prostat. Hal tersebut dikarenakan sunat akan mengurangi risiko terinfeksi penyakit kelamin menular yang menjadi salah satu penyebab kanker prostat.

"Memang terlalu dini jika mengatakan sunat dapat mencegah kanker prostat, tapi kemungkinan itu tetap ada," jelas Dr Marie-Elise Parent, pakar kanker dari Universiy of Quebec's INRS-Institut Armand-Frappier di Montreal, Kanada.

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 3.208 pria berusia 40-75 tahun yang di antaranya telah didiagnosa kanker prostat. Sementara sisanya tidak memiliki kanker prostat.

Dari penelitian itu, pria dewasa yang telah disunat memiliki 14 persen risiko lebih kecil terkena kanker prostat. Sedangkan pada pria dewasa yang tidak disunat memiliki risiko lebih tinggi.

2. Menghindari HIV

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Tak hanya untuk menghindari kemungkinan terkena kanker prostat, disunat atau dikhitan juga dapat mengurangi risiko terkena HIV hingga 50 persen. Studi terbaru dari AS mengungkap prosedur pengambilan kulup penis ini memberikan perlindungan pada pria dari HIV dan virus-virus lainnya.

Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Lance Price dan rekan-rekannya dari George Washington University, AS. Mereka melakukan uji coba sunat massal di Uganda. Kemudian mereka membandingkan sampel yang belum disunat dengan yang sudah disunat satu tahun kemudian.

Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa setelah disunat, jumlah total bakteri yang ada di kulup penis partisipan menurun secara signifikan. Selain itu prevalensi bakteri anaerob (organisme yang tak dapat hidup tanpa oksigen) menjadi berkurang.

"Anda menghilangkan kulupnya dan jumlah oksigen yang ada di penis menjadi meningkat sekaligus menurunkan kelembabannya. Itu sama artinya dengan mengubah ekosistem yang ada di penis sehingga penis tidak menjadi sarang virus," jelas Dr. Price.

3. 'Menyumbang' Bakteri Baik

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Selain ada di usus, bakteri baik juga ada pada kelamin laki-laki. Para ilmuwan dari Indiana University menemukan bakteri baik tersebut pada daerah di bawah kulup penis. Awalnya mereka tidak mengetahui bahwa pria yang menjelang aktif secara seksual memiliki bakteri dalam saluran kencingnya.

"Pria muda memiliki bakteri yang mirip pada wanita muda yang sehat. Kami menduga bahwa bakteri ini dapat meningkatkan kesehatan kelamin pada pria seperti halnya yang terjadi pada wanita. Temuan ini bertentangan dengan anggapan sebelumnya bahwa hanya bakteri jahat saja yang menyerang saluran kelamin pria," kata Davied E. Nelson salah satu peneliti di sana.

Populasi bakteri baik ini secara signifikan dipengaruhi oleh sunat. Nelson menambahkan, pria yang sudah disunat atau dikhitan memiliki mikroba baik yang dapat berperan sebagai pelindung. Oleh karena itu sunat atau khitan diketahui dapat mengurangi risiko tertular HIV dan penyakit menular seksual lainnya.

4. Menghindari Infeksi Ginjal & Kandung Kemih

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Sebuah studi baru-baru ini menemukan bocah laki-laki yang tidak dikhitan sepuluh kali lebih rentan terserang infeksi ginjal, kandung kemih, dan uretra daripada bocah yang dikhitan. Penelitian ini juga diikuti oleh anak-anak yang baru lahir hingga berusia 16 tahun.

Dari penelitian ini, peneliti melihat bahwa tingkat kecenderungan terjadinya infeksi saluran kemih pada anak yang baru lahir hingga berusia setahun sebanyak 9,9 kali lebih tinggi pada anak yang tidak disunat. Sedangkan untuk partisipan berusia 1-16 tahun, risikonya 6,6 kali lebih tinggi pada anak yang tidak disunat.

"Khitan memberikan perlindungan seumur hidup, bahkan membuat perbedaan tiga-empat kali lebih besar daripada prediksi kami. Tentu saja hal ini cukup mengejutkan bagi dunia medis," ungkap ketua tim peneliti Brian Morris, profesor ilmu kedokteran molekular dari Sydney Medical School, University of Sydney.

5. Menghindari Penumpukan Kotoran

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Meski terlihat menyeramkan, ternyata disunat atau dikhitan juga perlu dilakukan. Menurut banyak penelitian ilmiah, memotong kulup penis dapat menghindari penumpukan kotoran.

"Manfaatnya bisa menghindari penumpukan kotoran. Sebab setelah kencing, biasanya masih ada tersisa di kulit (kulup penis) yang akhirnya dapat menyebabkan iritasi kronis," kata DR. dr. Nur Rasyid, SpU(K) Ketua Departemen Urologi RSCM.

Jika tak disunat, bakteri dan kuman-kuman penyakit lebih mudah terkumpul di balik kutup penis. Apalagi bagian ini sering kali menghasilkan cairan yang memicu penumpukan kotoran. Oleh karena itu, ujung penis perlu dibersihkan, terutama bagi pria yang tak disunat.
Halaman 2 dari 6
Penelitian yang dilakukan di Kanada mengatakan bahwa kemungkinan besar sunat atau khitan dapat mengurangi risiko terserang kanker prostat. Hal tersebut dikarenakan sunat akan mengurangi risiko terinfeksi penyakit kelamin menular yang menjadi salah satu penyebab kanker prostat.

"Memang terlalu dini jika mengatakan sunat dapat mencegah kanker prostat, tapi kemungkinan itu tetap ada," jelas Dr Marie-Elise Parent, pakar kanker dari Universiy of Quebec's INRS-Institut Armand-Frappier di Montreal, Kanada.

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 3.208 pria berusia 40-75 tahun yang di antaranya telah didiagnosa kanker prostat. Sementara sisanya tidak memiliki kanker prostat.

Dari penelitian itu, pria dewasa yang telah disunat memiliki 14 persen risiko lebih kecil terkena kanker prostat. Sedangkan pada pria dewasa yang tidak disunat memiliki risiko lebih tinggi.

Tak hanya untuk menghindari kemungkinan terkena kanker prostat, disunat atau dikhitan juga dapat mengurangi risiko terkena HIV hingga 50 persen. Studi terbaru dari AS mengungkap prosedur pengambilan kulup penis ini memberikan perlindungan pada pria dari HIV dan virus-virus lainnya.

Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Lance Price dan rekan-rekannya dari George Washington University, AS. Mereka melakukan uji coba sunat massal di Uganda. Kemudian mereka membandingkan sampel yang belum disunat dengan yang sudah disunat satu tahun kemudian.

Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa setelah disunat, jumlah total bakteri yang ada di kulup penis partisipan menurun secara signifikan. Selain itu prevalensi bakteri anaerob (organisme yang tak dapat hidup tanpa oksigen) menjadi berkurang.

"Anda menghilangkan kulupnya dan jumlah oksigen yang ada di penis menjadi meningkat sekaligus menurunkan kelembabannya. Itu sama artinya dengan mengubah ekosistem yang ada di penis sehingga penis tidak menjadi sarang virus," jelas Dr. Price.

Selain ada di usus, bakteri baik juga ada pada kelamin laki-laki. Para ilmuwan dari Indiana University menemukan bakteri baik tersebut pada daerah di bawah kulup penis. Awalnya mereka tidak mengetahui bahwa pria yang menjelang aktif secara seksual memiliki bakteri dalam saluran kencingnya.

"Pria muda memiliki bakteri yang mirip pada wanita muda yang sehat. Kami menduga bahwa bakteri ini dapat meningkatkan kesehatan kelamin pada pria seperti halnya yang terjadi pada wanita. Temuan ini bertentangan dengan anggapan sebelumnya bahwa hanya bakteri jahat saja yang menyerang saluran kelamin pria," kata Davied E. Nelson salah satu peneliti di sana.

Populasi bakteri baik ini secara signifikan dipengaruhi oleh sunat. Nelson menambahkan, pria yang sudah disunat atau dikhitan memiliki mikroba baik yang dapat berperan sebagai pelindung. Oleh karena itu sunat atau khitan diketahui dapat mengurangi risiko tertular HIV dan penyakit menular seksual lainnya.

Sebuah studi baru-baru ini menemukan bocah laki-laki yang tidak dikhitan sepuluh kali lebih rentan terserang infeksi ginjal, kandung kemih, dan uretra daripada bocah yang dikhitan. Penelitian ini juga diikuti oleh anak-anak yang baru lahir hingga berusia 16 tahun.

Dari penelitian ini, peneliti melihat bahwa tingkat kecenderungan terjadinya infeksi saluran kemih pada anak yang baru lahir hingga berusia setahun sebanyak 9,9 kali lebih tinggi pada anak yang tidak disunat. Sedangkan untuk partisipan berusia 1-16 tahun, risikonya 6,6 kali lebih tinggi pada anak yang tidak disunat.

"Khitan memberikan perlindungan seumur hidup, bahkan membuat perbedaan tiga-empat kali lebih besar daripada prediksi kami. Tentu saja hal ini cukup mengejutkan bagi dunia medis," ungkap ketua tim peneliti Brian Morris, profesor ilmu kedokteran molekular dari Sydney Medical School, University of Sydney.

Meski terlihat menyeramkan, ternyata disunat atau dikhitan juga perlu dilakukan. Menurut banyak penelitian ilmiah, memotong kulup penis dapat menghindari penumpukan kotoran.

"Manfaatnya bisa menghindari penumpukan kotoran. Sebab setelah kencing, biasanya masih ada tersisa di kulit (kulup penis) yang akhirnya dapat menyebabkan iritasi kronis," kata DR. dr. Nur Rasyid, SpU(K) Ketua Departemen Urologi RSCM.

Jika tak disunat, bakteri dan kuman-kuman penyakit lebih mudah terkumpul di balik kutup penis. Apalagi bagian ini sering kali menghasilkan cairan yang memicu penumpukan kotoran. Oleh karena itu, ujung penis perlu dibersihkan, terutama bagi pria yang tak disunat.

(rdn/up)

Berita Terkait