Jakarta -
Gangguan pencernaan banyak bermunculan di hari pertama masuk kerja, setelah sepekan libur merayakan Idul Fitri. Ada yang mengeluh perutnya mulas, ada pula yang diare hingga lemas dan tidak bisa beraktivitas. Apa sih penyebabnya?
Umumnya, diare dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan penyebabnya yakni diare spesifik dan nonspesifik. Diare spesifik disebabkan oleh infeksi kuman, baik virus maupun bakteri. Diare selain karena infeksi, misalnya karena salah makan, dikategorikan sebagai diare nonspesifik.
Kedua jenis diare ini sama-sama perlu diwaspadai seusai libur lebaran, terutama bagi yang masih kelelahan akibat baru kembali dari ritual mudik. Berikut beberapa penyebab diare seperti dirangkum detikHealth, Senin (4/8/2014):
1. Kebiasaan menimbun bahan makanan
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Ditinggal mudik oleh asisten rumah tangga bisa menjadi mimpi buruk bagi yang tidak terbiasa mengurus rumahnya sendiri. Biasanya paling kelihatan soal makanan, kulkas langsung dipenuhi berbagai jenis bahan makanan karena khawatir tidak ada warung buka selama libur.
"Pada saat penyimpanan di kulkas harus tetap diperhatikan makanan yang matang jangan berdekatan dengan makanan yang mentah sehingga makanan yang matang tidak terkonsumsi dengan bakteri yang kebetulan hidup pada makanan yang mentah tersebut," pesan Dr Ari Fahrial Syam, SpPD, Ketua Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Jakarta Raya (PAPDI Jaya).
2. Makanan sisa lebaran
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Makanan yang berlimpah saat lebaran tidak selalu habis dikonsumsi sekeluarga. Tidak masalah untuk menyimpannya lalu mengonsumsinya di kemudian waktu, yang penting jangan lupa dipanaskan. Penyimpanan di meja makan dalam suhu ruang bisa memicu kerusakan dan kontaminasi oleh kuman.
Untuk memanaskan, biasanya orang berpatokan pada perubahan bau dan wujud makanan. Kalau baunya sudah berubah, barulah makanan tersebut dipanaskan. Rupanya, cara ini terlalu berisiko. Lebih dianjurkan untuk selalu memanaskan, dengan api maupun microwave.
"Yang menjadi masalah kadang kala tidak semua kuman yang mencemari makanan tersebut menyebabkan perubahan bau dan bentuk dari makanan tersebut," jelas Dr Ari.
3. Kurang menjaga kebersihan
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Infeksi kuman di saluran pencernaan mudah terjadi akibat kurang menjaga kebersihan, baik kebersihan makanan maupun kebersihan diri sendiri. Tidak cuci tangan sebelum makan bisa menularkan berbagai jenis kuman penyebab penyakit.
Dalam perjalanan mudik, urusan makan sering dianggap sebagai kondisi darurat. Misalnya, tidak cuci tangan dianggap tidak masalah toh tidak setiap hari dilakukan. Padahal dalam kondisi kelelahan di jalan, daya tahan tubuh cenderung melemah sehingga mudah terinfeksi.
4. Pola makan tidak teratur
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Selain karena kurang menjaga kebersihan, gangguan pencernaan sehabis perjalanan jauh juga disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur. Misalnya ketika tiba waktunya makan, lalu lintas sedang macet-macetnya dan belum bisa menjangkau rest area. Akhirnya, pola makan menjadi berantakan.
"Pemecahannya, segeralah kembali ke pola makan sehat dan seimbang," saran Prof Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan.
Ditinggal mudik oleh asisten rumah tangga bisa menjadi mimpi buruk bagi yang tidak terbiasa mengurus rumahnya sendiri. Biasanya paling kelihatan soal makanan, kulkas langsung dipenuhi berbagai jenis bahan makanan karena khawatir tidak ada warung buka selama libur.
"Pada saat penyimpanan di kulkas harus tetap diperhatikan makanan yang matang jangan berdekatan dengan makanan yang mentah sehingga makanan yang matang tidak terkonsumsi dengan bakteri yang kebetulan hidup pada makanan yang mentah tersebut," pesan Dr Ari Fahrial Syam, SpPD, Ketua Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Jakarta Raya (PAPDI Jaya).
Makanan yang berlimpah saat lebaran tidak selalu habis dikonsumsi sekeluarga. Tidak masalah untuk menyimpannya lalu mengonsumsinya di kemudian waktu, yang penting jangan lupa dipanaskan. Penyimpanan di meja makan dalam suhu ruang bisa memicu kerusakan dan kontaminasi oleh kuman.
Untuk memanaskan, biasanya orang berpatokan pada perubahan bau dan wujud makanan. Kalau baunya sudah berubah, barulah makanan tersebut dipanaskan. Rupanya, cara ini terlalu berisiko. Lebih dianjurkan untuk selalu memanaskan, dengan api maupun microwave.
"Yang menjadi masalah kadang kala tidak semua kuman yang mencemari makanan tersebut menyebabkan perubahan bau dan bentuk dari makanan tersebut," jelas Dr Ari.
Infeksi kuman di saluran pencernaan mudah terjadi akibat kurang menjaga kebersihan, baik kebersihan makanan maupun kebersihan diri sendiri. Tidak cuci tangan sebelum makan bisa menularkan berbagai jenis kuman penyebab penyakit.
Dalam perjalanan mudik, urusan makan sering dianggap sebagai kondisi darurat. Misalnya, tidak cuci tangan dianggap tidak masalah toh tidak setiap hari dilakukan. Padahal dalam kondisi kelelahan di jalan, daya tahan tubuh cenderung melemah sehingga mudah terinfeksi.
Selain karena kurang menjaga kebersihan, gangguan pencernaan sehabis perjalanan jauh juga disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur. Misalnya ketika tiba waktunya makan, lalu lintas sedang macet-macetnya dan belum bisa menjangkau rest area. Akhirnya, pola makan menjadi berantakan.
"Pemecahannya, segeralah kembali ke pola makan sehat dan seimbang," saran Prof Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan.
(up/ajg)