Awalnya peneliti 26 partisipan untuk melakukan sebuah tugas secara berulang-ulang. Dan di setiap akhir percobaan, masing-masing dari mereka juga menjalani scan otak menggunakan fMRI.
Dari situ ketahuan, partisipan tampak paling bahagia ketika berhasil melakukan sesuatu jauh lebih baik dari dugaannya semula. Namun ini hanya akan terjadi bilamana tugas yang diberikan kepadanya mengandung risiko atau ada imbalannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Rutledge menambahkan kombinasi antara ekspektasi dan hasil yang didapatkan kemudianlah yang nantinya menentukan tingkat kebahagiaan orang tersebut.
Misalnya saat ingin makan malam di sebuah restoran. Bila ekspektasi Anda sudah rendah sejak sebelum masuk ke restoran, maka dijamin rasa makanan mungkin tak seenak harapan Anda. Sebaliknya, ekspektasi yang positif akan meningkatkan kebahagiaan Anda ketika akhirnya bisa makan di resto tersebut, karena Anda mengantisipasi atau menantikan acara makan tersebut.
Walau demikian, Dr Rutledge menegaskan di dunia nyata, kebanyakan orang lebih memilih pekerjaan yang berisiko atau menantang untuk mendapatkan kebahagiaan.
Menanggapi temuan ini, Prof Andrew Oswald dari University of Warwick mengaku sepakat. Menurutnya, tingkat kebahagiaan seseorang memang bergantung pada besarnya gap antara apa yang telah Anda raih dan apa yang Anda harapkan.
"Persis seperti yang dikatakan para ahli ekonomi bahwa kebahagiaan dan kepuasan terhadap pekerjaan relatif dipengaruhi oleh besarnya gaji yang didapatkan. Jadi jika Anda ingin tahu sebahagia apa saya sekarang, jangan tanya besarnya gaji saya. Tanyakan gaji saya bila dibandingkan dengan orang lain atau gaji saya di masa lalu. Berapapun gapnya, inilah yang menentukan kebahagiaan," tutupnya.










































