Berikut ini ulasan mengenai alasan untuk tidak terlalu panik menghadapi virus Ebola, dikutip dari CNN, Kamis (7/8/2014).
1. Virus ini lemah
|
|
"Virus Ebola menular jika terjadi kontak langsung dengan darah, lendir, atau cairan tubuh orang yang terinfeksi. Contohnya seperti ini, jika kita menggunakan alat-alat yang telah terkontaminasi cairan pasien terinfeksi, akan mudah penularannya," ujar Stephen Monroe, deputi direktur dari Centers for Disease Control's National for Emerging Zoonotic and Infectious Diseases.
Itulah kenapa tim medis dari negara-negara yang alat kesehatannya tidak lengkap mudah tertular. Ini juga menjadi alasan mengapa orang yang mempersiapkan penguburan untuk pasien juga sering tertular.
2. Petugas kesehatan tahu cara mengatasinya
|
|
"Ebola bukanlah sebuah patogen misterius yang tidak diketahui cara penyebarannya," kata Bruce Ribner, pengawas unit isolasi spesial yang merawat pasien di Emory University Hospital.
Kebiasaan perilaku hidup bersih bisa menghentikan penyebarannya.
"Ebola adalah virus yang bisa dihentikan dan tidak menyebar di rumah sakit. cabang penyebarannya tinggi, tapi akan dengan cepat mati dengan tipe disinfektan yang ada di rumah sakit," ujar Tom Frieden, direktur Centers for Disease Control and Prevention.
3. Sumber daya cukup untuk menanganinya
|
|
Mereka diamankan di ruang isolasi Emory Hospital dengan pengawasan khusus dan terbaik, salah satu dari empat yang dimiliki negara ini.
Pada pengamanannya, ventilasinya sangat spesial. Dilengkapi dengan intercom dan kaca yang memisahkan pasien dengan pengungjung jadi jika ada yang datang tidak harus lewat kontak langsung. Kami juga melengkapinya dengan pengawas yang ketat untuk semua orang dan semua alat yang akan masuk dan keluar kamar pasien. Petugas kesehatannya pun menggunakan pakaian pelindung.
Beberapa pusat kesehatan pun sudah bisa mengatasi pasien Ebola, kata William Schaffner, seorang ahli dari penyakit infeksi dari Vanderbilt University's School of Medicine.
Setiap ICU punya ruang isolasi yang digunakan untuk pasien yang terkena tuberkulosis, SARS, MERS, atau infeksi lainnya. Schaffner mengatakan bahwa tidak banyak perbedaan penanganannya dengan pasien Ebola. Hanya saja pencegahannya lebih ketat dan terus dipastikan petugas kesehatannya mengikutin aturan protokol.
4. Staf medis yang terlatih
|
|
Pekerja medis dari negara ini pun juga telah diberitahukan untuk memperhatikan gejala Ebola dan menanyakan pada pasien yang baru saja berwisata ke Afrika Barat. Mereka dilatih untuk mengatasi kasus Ebola dan mengarantinannya dengans segera, lalu menjaga yang lain agar tidak melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi.
5. Peringatan di bandara
|
|
Saat penumpang itu sampai ke bandara tujuan, mereka harus mencuci tangannya di tempat yang sudah dibeikan klorin. Petugas bandara pun menggunakan sarung tangan saat berinteraksi dengan pasien.
"Akan selalu ada kemungkinan seseorang terinfeksi bisa masuk ke Amerika," juru bicara CDC, Barbara Reynold mengatakan. "Petugas kesehatan peduli dengan masalah ini karena dapat menyebar dengan cepat."
Ddi bandara Amerika, petugas yang sudah dilatih pun selalu mengawasi penumpah yang sakit. Penjaga pun juga menanyakan potensi penyebaran. Jika seseorang sakit, petugas tersebut akan membawanya ke ruang isolasi di bandara hingga petugas CDC datang untuk menanyakan beberapa pertanyaan.
Halaman 2 dari 6











































