Untuk mengatasi masalah semacam ini, seorang remaja asal New York terdorong untuk menciptakan sebuah sensor yang dapat mengirimkan alarm peringatan bilamana ada seorang pasien demensia atau pikun mulai turun dari kasur dan berkeliaran di rumah atau bahkan hingga keluar dari rumah.
Remaja bernama Kenneth Shinozuka ini terinspirasi dari kakeknya sendiri yang mengidap Alzheimer. Ia melihat sendiri sang kakek yang pikun sering berkeliaran seorang diri di malam hari, tanpa ada yang mengawasi dan berulang kali mengalami cedera karenanya.
Sensor ciptaan remaja berusia 15 tahun itu berbentuk seperti koin dan wireless alias tanpa kabel. Kelebihannya, sensor ini tinggal ditempelkan ke telapak kaki si pasien Alzheimer, sehingga ketika si pasien berdiri dan mulai berjalan, sensor tadi akan langsung mendeteksi tekanan dari si telapak kaki lalu mengirimkan alarm peringatan ke ponsel perawat atau keluarganya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya Shinozuka hanya ingin kakeknya tak celaka lagi karena kebiasaannya itu. Tapi siapa sangka berkat temuannya ini, Shinozuka justru berhak menggondol salah satu penghargaan dalam Scientific American Science in Action Award dan memperoleh hadiah uang tunai sebesar 50.000 dollar AS (sekitar Rp 590 juta).
"Saya tak bisa lupa ekspresi kebahagiaan keluarga kami ketika melihat sensor saya berfungsi dan memberikan peringatan ketika kakek saya mulai jalan-jalan sendiri," kata Shinozuka bangga seperti dikutip dari Reuters, Jumat (8/8/2014).
Nantinya temuan Shinozuka ini akan dipresentasikan dalam Google Science Fair yang sedianya akan digelar pada bulan September 2014 dan memperebutkan beasiswa jutaan rupiah.
(iva/ajg)











































