Sebagai salah satu jenis penyakit kejiwaan, bipolar adalah gangguan yang kompleks. Ibarat sinetron, penderita bipolar memiliki suasana hati yang mudah berubah dan sulit dipahami.
dr Dito Anurogo dari Universitas Surya mengatakan sekitar 25 persen penderita gangguan bipolar pernah berupaya bunuh diri minimal sekali seumur hidup. Keinginan bunuh diri pada pasien bipolar muncul karena perubahan suasana hati yang ekstrem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kepala Departemen Psikiatri RSCM, dr Ayi Agung Kusumawardhani, SpKJ(K), bipolar dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Ia mengatakan sering merasakan depresi saat remaja berkemungkinan 20-40% berkembang menjadi gangguan bipolar. Selain itu riwayat keluarga yang pernah mengalami gangguan bipolar juga meningkatkan risiko terkena gangguan bipolar sebesar 60%.
Penanganan pasien bipolar dikatakan oleh dr Agung berbeda dengan pasien kejiwaan lainnya seperti skizofrenia. Menurutnya banyak kasus bipolar yang salah didiagnosis akibat kecenderungan pasien bipolar berhalusinasi dan mengalami gangguan kecemasan seperti halnya pasien skizofrenia.
"Pada pasien skizofrenia dan depresi, biasanya diberikan obat antidepresan sudah cukup membantu. Namun pada pasien gangguan bipolar, obat ini kurang efektif dan dapat menimbulkan efek samping seperti tremor dan kekakuan otot. Untuk pasien gangguan bipolar, sebaiknya diberi obat mood stabilizer untuk menenangkan perubahan mood yang ekstrim," papar dr Agung.
dr Agung menjelaskan, setelah gangguan bipolar tenang, baru program terapi untuk memberikan pemahaman mengenai gejala penyakit dan cara mengatasi kecemasan dapat diberikan.
Jika pasien sudah dapat mempelajari kemampuan tersebut, biasanya pasien lebih terampil dalam menghadapi perubahan mood yang terjadi dan penggunaan obat dapat dihentikan. Akan tetapi ada kemungkinan tekanan kembali menguat, bila sudah begitu gangguan dapat kembali dan obat harus diminum terus.
(ajg/up)











































