Berdoa Agar 'Setan' Ebola Pergi, Masyarakat Penuhi Tempat Ibadah

Berdoa Agar 'Setan' Ebola Pergi, Masyarakat Penuhi Tempat Ibadah

- detikHealth
Senin, 11 Agu 2014 16:08 WIB
Berdoa Agar Setan Ebola Pergi, Masyarakat Penuhi Tempat Ibadah
Tokoh Agama Memberikan Ceramah Soal Ebola (Foto: AFP/Getty Images)
Jakarta -

Status darurat internasional yang diberikan World Health Organization (WHO) memang bukan tanpa alasan. Terhitung sudah ada 1.779 kasus terjadi semenjak Ebola pertama kali muncul Februari, dengan 962 korban meninggal dunia.

Masyarakat pun sudah kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Sosialisasi pencegahan yang terlambat, kurangnya partisipasi pemerintah serta lambannya pemerintah dalam menangani masalah ini membuat masyarakat akhirnya hanya bisa berdoa agar virus yang mereka anggap 'setan' ini cepat pergi dari tanah air mereka.

"Semua orang sangat takut. Namun kami percaya pada Tuhan, dan Ia pasti akan memberikan pertolongannya. Setan ini tidak akan menggoyahkan iman kami," tutur Pendeta Martee Jones Seator dari Saint Peter's Lutheran Church. Liberia, seperti dikutip dari Reuters, Senin (11/8/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ya, masyarakat nampaknya sudah benar-benar kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Apa yang diucapkan oleh Pendeta Seator memang tidak hanya terjadi di negaranya, namun juga di Guinea dan Sierra Leone, dua negara tetangga Liberia yang juga mempunyai banyak korban Ebola.

Bahkan Imam Masjid Al-Furquan di Kano, Nigeria, Dr Bashir Omar mengajak warga negaranya untuk terus beribadah dan berdoa kepada Tuhan agar Afrika bisa segera terbebas dari Ebola. Hal itu diungkapkannya dalam sebuah sesi khutbah beberapa waktu lalu.

"Pengobatan, upaya pencegahan, menggunakan masker, cuci tangan, dan lainnnya memang perlu agar kita terbebas dari Ebola. Namun bagaimana dengan saudara-saudara kita yang sudah tertular? Hanya doa secara terus menerus kepada Allah yang dapat membuat Afrika bisa terbebas dari Ebola," tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI, Prof Tjandra Yoga Aditama, ebola dinyatakan sebagai darurat internasional karena di tiga negara episenter Ebola yakni Guinea, Liberia dan Sierra Leone ditemukan lima hal.

"Pertama, sistem kesehatan tidak berjalan baik dan kondisi ini dipengaruhi sumber daya manusia, kondisi finansial, dan material," kata Prof Tjandra dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan.

Selain itu, salah persepsi pemahaman terhadap penyakit, termasuk bagaimana penularannya juga menghambat penanganan virus ini. Mobilitas penduduk yang tinggi dan terjadinya penularan di beberapa generasi, termasuk di fasilitas kesehatan dan RS juga turut berperan.

(up/up)

Berita Terkait