Pemimpin studi dari Hong Kong University Science and Technology, Anirban Mukhopadhyay mengatakan cobalah menunggu rasa sedih hilang sebelum mencoba untuk tersenyum.
Menurut Mukhopadhyay, saat seseorang memaksa untuk tersenyum otak akan menghubungkan perasaan buruk dengan senyuman. Jika dilakukan berulang, saat orang tersenyum bukan rasa senang yang dirasakan melainkan pengalaman pahit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil penelitian menunjukkan mereka yang tersenyum saat senang merasa lebih baik daripada mereka yang terbiasa tersenyum saat sedih.
"Di antara orang yang melihat senyum sebagai sesuatu yang proaktif dan menyebabkan kebahagiaan, sering tersenyum menghasilkan rasa kesejahteraan yang kurang. Di sini tersenyum menjadi bumerang," tulis Mukhopadhyay dalam penelitiannya seperti dikutip dari Journal of Experimental Social Psychology 2014, Selasa (12/8/2014).
(up/up)











































