Untuk memastikannya, tim peneliti melibatkan 21 pasang kembar identik. Dengan cara ini, peneliti berharap bisa mengetahui apakah kondisi genetik seseorang mempengaruhi respons otaknya ketika melihat foto-foto makanan.
"Setidaknya dengan memakai kembar identik, kami yakin masing-masing pasangan memiliki gen dan pola asuh yang sama," terang ketua tim peneliti, Dr Ellen Schur dari University of Washington seperti dikutip dari ABC Australia, Kamis (14/8/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata gen dan pola asuh hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap aktivitas bagian otak partisipan yang mengatur nafsu makan. "Justru kami menemukan adanya aktivitas di bagian otak ini sangat erat kaitannya dengan kadar gula darah masing-masing individu yang dihitung saat penelitian berlangsung," ungkap Dr Schur.
Terlepas dia kembar atau tidak, partisipan yang kadar gula darahnya rendah memperlihatkan adanya peningkatan aktivitas otak bagian pengatur nafsu makan, apalagi ketika yang ditunjukkan peneliti adalah foto makanan berkalori tinggi nan menggemukkan.
Bahkan setelah diberi makanan lagi beberapa jam kemudian, mereka yang kadar gula darahnya tetap rendah juga memperlihatkan peningkatan aktivitas otak ketika ditunjukkan foto makanan, terutama di bagian yang memotivasi partisipan untuk makan.
Sepakat dengan temuan ini, Dr Zane Andrews dari Monash University mengatakan, mengelola kadar gula darah memang merupakan kunci kelangsungan hidup manusia. "Ini sesuai dengan prediksi kami. Bila otak menangkap sinyal bahwa kadar gula darah menurun, maka ia akan melakukan segala cara untuk mendorong Anda makan," jelasnya.
(iva/up)











































