Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI mempunyai laboratorium primadona yang menjadi rujukan nasional. Selain dapat menyimpan dan mendeteksi flu burung, laboratorium ini juga siap mendeteksi Ebola jika sampai ke Indonesia.
"Ya meski tak diinginkan dan semoga tidak terjadi, tapi jika nanti Ebola masuk ke Indonesia, lab ini mampu mendeteksinya," tutur Prof Tjandra di Komplek Laboratorium Biomedis Kemenkes, Jalan Percetakan Negara, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, seperti ditulis Jumat (15/8/2014).
Pernyataan Prof Tjandra bukan tanpa alasan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan‎ nomor 658 tahun 2009, laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof Dr Sri Oemijati ini menjadi rujukan nasional bagi penyakit infeksi New Emerging dan Re-Emerging. Dengan kata lain, jika ada penyakit infeksi baru yang belum diketahui, sample virus tersebut akan diteliti di sini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ebola kan belum masuk sini dan semoga nggak terjadi. Tapi soal MERS dan terduga pasien yang kemarin sempat diributkan itu ya sampelnya dibawa kesini. Diperiksa dan diteliti, dan hasilnya negatif semua," sambungnya lagi.
Laboratorium ini mempunyai 4 ruangan Biosafety Level (BSL) 3. Standar yang sudah diakui oleh World Health Organization (WHO) sebagai sarana penyimpanan dan deteksi virus menular berbahaya seperti influenza termasuk flu burung.
Kedepannya, Prof Tjandra berharap bahwa laboratorium ini bukan hanya akan menjadi saran deteksi dan penyimpanan virus, akan tetapi juga bisa berfungsi sebagai tempat pembuatan vaksin. Sehingga, Indonesia tidak akan kalah bersaing dengan negara-negara lainnya, khususnya untuk level Asia Tenggara.
"Ya di sini memang bisa membuat vaksin. Hanya saja tempat untuk pengujiannya belum ada. Rencananya memang akan dibuat di sebelahnya tempat uji untuk hewan, dan sebelahnya lahi untuk uji kepada manusia," tutupnya.
(up/up)











































