Banyak Orang Percaya Mitos, Skoliosis Dibawa ke Dukun Patah Tulang

Inspirasi Gadis Skoliosis

Banyak Orang Percaya Mitos, Skoliosis Dibawa ke Dukun Patah Tulang

- detikHealth
Senin, 18 Agu 2014 13:33 WIB
Banyak Orang Percaya Mitos, Skoliosis Dibawa ke Dukun Patah Tulang
Foto rontgen Ardha (Dok: Pribadi)
Jakarta -

Skoliosis atau tulang belakang yang melengkung bisa disembuhkan dengan ilmu kedokteran. Dwi Setya Wardhani (26) alias Ardha tengah menjalaninya dan mengalami perbaikan, lengkungan yang semula 144 derajat kini menjadi 80 derajat.

Gadis asal Mojokerto Jawa Timur tersebut mengalami skoliosis yang dikategorikan ekstrem. Organ dalam seperti lambung dan paru-parunya sampai kolaps karena terjepit lengkungan tulang belakang. Sungguhpun begitu, operasi telah membuatnya lebih baik.

Di masyarakat, pemahaman tentang skoliosis tidak selalu menggembirakan. Sebagian kalangan menganggap, kondisi seperti itu akan membaik hanya dengan membawanya ke tukang pijat. Jalur non-medis pun menjadi pilihan karena murah meriah, meski tidak ada jaminan soal kesembuhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebelum tahun 2005, saya melihat teman saya sendiri yang membawa anaknya ke dukun patah tulang. Bukannya sembuh, ya jadi tambah parah penyakitnya," kata Dr dr Rahyussalim, SpOT(K), seorang dokter ortopedi yang berpraktik di RS Cipto Mangunkusumo.

Berangkat dari kenyataan tulah, dr Salim tergerak untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang skoliosis dan cara menanganinya. Sebagai wadahnya, ia pun membentuk sebuah komunitas pada tahun 2008 yang kemudian dinamakannya Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI).

Lambat laun, kegiatan dalam komunitas ini terus berkembang. Tidak sekedar memberikan informasi, kini MSI juga menjadi perantara bagi pasien skoliosis untuk medapatkan penanganan dan perawatan medis. MSI juga menguruskan administrasi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) untuk anggotanya.

Salah seorang anggotanya adalah Tri Kurniawati dari UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca, RS Cipto Mangunkusumo. Anak perempuannya didiagnosis mengidap skoliosis sejak umur 11 tahun dan kini baru saja diterima kuliah di jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

"Kenapa saya mau bergabung dan mengurus komunitas ini karena saya tahu bagaimana perjuangan keluarga dan pasien skoliosis," kata Tri, ditemui di tempat kerjanya, seperti ditulis pada Senin (18/8/2014).

Jaringan MSI kini tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Selain sering mengadakan seminar, komunitas ini juga sudah berhasil membantu 36 pasien skoliosis mendapatkan tindakan medis berupa operasi.

Tanpa penanganan yang benar, skoliosis akan menyebabkan progres kebengkokan pada tulang belakang. Tak jarang, kondisi ini memicu nyeri bahkan menyebabkan kelumpuhan pada pasien. Jika sudah parah, skoliosis pun bisa mengganggu kerja organ tubuh lain yang terjepit lengkungan tulang.

(up/up)

Berita Terkait