Diterangkan Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD, KGEH, MMB, dari Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM berbagai penelitian di Syria, Palestina, Turki, Jordan, dan Kuwait menemukan bahwa istri pertama akan mempunyai masalah psikosial, keluarga dan masalah ekonomi yang lebih besar dibandingan pada wanita dalam perkawinan monogami.
Studi dalam World Journal Psychiatry tahun 2013 menemukan wanita yang dipoligami mengalami penurunan kepuasan hidup dan kepuasan perkawinannya. Tak hanya itu, mereka juga memiliki masalah kejiwaan seperti depresi, cemas, paranoid, dan gangguan psikosomatik yang berdampak pada kesehatannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, dr Ari menuturkan dari berbagai penelitian yang ada, didapatkan kesimpulan bahwa istri yang dimadu akan lebih mudah mengalami gangguan kesehatan dibandingkan dengan wanita yang tidak dimadu. Menariknya, kepuasan dalam perkawinan juga berpengaruh pada kesehatan wanita.
Hal ini didukung oleh survei dari Universitas Yonsei Korea Selatan dipublikasikan di Jurnal PlosOne yang melibatkan 8.538 orang dari China, Jepang, Taiwan dan Korea. Dalam survei tersebut didapatkan keterangan pasangan yang puas dalam perkawinannya akan lebih sehat dari pada orang yang belum menikah.
"Tetapi seseorang yang menikah tetapi tidak puas dengan perkawinannya ternyata mempunyai permasalahan kesehatan yang sama dengan orang yang tidak menikah. Hal inilah yang menghasilkan kesimpulkan bahwa kepuasan perkawinan merupakan hal yang penting untuk kesehatan dibandingkan perkawinan itu sendiri," terang dr Ari.
(rdn/up)











































