Iyuh, Inikah yang Dilakukan Lalat Saat Hinggap di Makanan?

Iyuh, Inikah yang Dilakukan Lalat Saat Hinggap di Makanan?

- detikHealth
Kamis, 21 Agu 2014 12:01 WIB
Iyuh, Inikah yang Dilakukan Lalat Saat Hinggap di Makanan?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Makanan yang dihinggapi lalat umumnya tidak akan dikonsumsi. Sebagian karena tahu betul ada banyak kuman yang menempel di sana, sebagian lagi karena gengsi takut dianggap jorok. Ketika tidak ada yang melihat, tetap saja disantap.

Riset terbaru menunjukkan, 2 dari 3 orang tetap menyantap makanan yang telah dihinggapi lalat. Kalau hanya kuman kadang tidak cukup membuat mereka takut. Tapi dengan mengetahui apa yang dilakukan lalat di atas makanan mungkin mereka akan berpikir ulang.

Berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui tentang lalat saat hinggap di makanan, seperti dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, Kamis (21/8/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Jalan-jalan dulu di atas makanan

Lalat rumah memiliki sensor rasa di kakinya, bukan di lidah seperti manusia. Oleh karenanya, lalat tidak punya pilihan lain untuk mencicipi makanannya selain dengan jalan-jalan di atasnya. Mereka tidak akan berhenti menjelajah sebelum menemukan makanan yang dianggapnya enak.

2. Memuntahkan liur

Jangan dibayangkan lalat akan menggigit kemudian mengunyah makanan kita. Mulut lalat tidak dilengkapi gigi sebagai alat kunyah. Makanan padat tidak bisa langsung dimakan oleh lalat, sehingga harus dilumatkan dulu secara kimiawi.

Nah, bagian ini yang mungkin paling menjijikkan. Sebelum menyantap makanan kita, lalat akan memuntahkan cairan digestif yang berfungsi untuk melumatkan makanan padat. Setelah terbentuk semacam 'sup', barulah lalat bisa mengisap sari-sarinya.

3. Meninggalkan kuman

Lalat bisa menyebarkan kuman karena mereka mencari makan di mana saja, di makanan yang kita santap maupun di tempat sampah. Kuman yang menempel di permukaan tubuhnya mungkin hanya bertahan beberapa jam, tapi yang ikut tertelan saat melumatkan dan mengisap makanan, bisa bertahan hingga berhari-hari. Saat muntah di makanan kita, kuman-kuman yang diawetkan ini akan menyebar.

Dalam laporan organisasi kesehatan dunia WHO, disebutkan bahwa lalat bisa menyebarkan berbagai kuman penyebab infeksi. Mulai dari infeksi kulit, infeksi pencernaan, bahkan infeksi mata.

4. Bekas lalat tetap dimakan

Sebuah penelitian terbaru dari Orkin menunjukkan, 2 dari 3 orang tetap menyantap makanannya meski sudah dihinggapi lalat. Sebagai bandingan, hanya 3 dari 100 orang yang menyantap makanan setelah dihinggapi kecoa. Artinya, lalat dianggap jauh lebih bersih dibandingkan kecoa.

Faktanya, lalat jauh lebih kotor dibandingkan kecoa.

"Banyak pengunjung restoran tidak mengetahui bahwa lalat rumahan dua kali lebih kotor daripada kecoa. Sangat penting bahwa setiap orang memahami besarnya ancaman kesehatan yang dimiliki oleh lalat sehingga penyebaran penyakit dan bakteri dapat dicegah," tulis ahli serangga dari Orkin, Ron Harrison, Ph.D.
Halaman 2 dari 5
Lalat rumah memiliki sensor rasa di kakinya, bukan di lidah seperti manusia. Oleh karenanya, lalat tidak punya pilihan lain untuk mencicipi makanannya selain dengan jalan-jalan di atasnya. Mereka tidak akan berhenti menjelajah sebelum menemukan makanan yang dianggapnya enak.

Jangan dibayangkan lalat akan menggigit kemudian mengunyah makanan kita. Mulut lalat tidak dilengkapi gigi sebagai alat kunyah. Makanan padat tidak bisa langsung dimakan oleh lalat, sehingga harus dilumatkan dulu secara kimiawi.

Nah, bagian ini yang mungkin paling menjijikkan. Sebelum menyantap makanan kita, lalat akan memuntahkan cairan digestif yang berfungsi untuk melumatkan makanan padat. Setelah terbentuk semacam 'sup', barulah lalat bisa mengisap sari-sarinya.

Lalat bisa menyebarkan kuman karena mereka mencari makan di mana saja, di makanan yang kita santap maupun di tempat sampah. Kuman yang menempel di permukaan tubuhnya mungkin hanya bertahan beberapa jam, tapi yang ikut tertelan saat melumatkan dan mengisap makanan, bisa bertahan hingga berhari-hari. Saat muntah di makanan kita, kuman-kuman yang diawetkan ini akan menyebar.

Dalam laporan organisasi kesehatan dunia WHO, disebutkan bahwa lalat bisa menyebarkan berbagai kuman penyebab infeksi. Mulai dari infeksi kulit, infeksi pencernaan, bahkan infeksi mata.

Sebuah penelitian terbaru dari Orkin menunjukkan, 2 dari 3 orang tetap menyantap makanannya meski sudah dihinggapi lalat. Sebagai bandingan, hanya 3 dari 100 orang yang menyantap makanan setelah dihinggapi kecoa. Artinya, lalat dianggap jauh lebih bersih dibandingkan kecoa.

Faktanya, lalat jauh lebih kotor dibandingkan kecoa.

"Banyak pengunjung restoran tidak mengetahui bahwa lalat rumahan dua kali lebih kotor daripada kecoa. Sangat penting bahwa setiap orang memahami besarnya ancaman kesehatan yang dimiliki oleh lalat sehingga penyebaran penyakit dan bakteri dapat dicegah," tulis ahli serangga dari Orkin, Ron Harrison, Ph.D.

(up/ajg)

Berita Terkait