Cerita tentang Ekstrak Jaring Laba-laba, Obat Luka Kreasi Mahasiswa UGM

Cerita tentang Ekstrak Jaring Laba-laba, Obat Luka Kreasi Mahasiswa UGM

- detikHealth
Jumat, 22 Agu 2014 08:01 WIB
Cerita tentang Ekstrak Jaring Laba-laba, Obat Luka Kreasi Mahasiswa UGM
jaring laba-laba yang siap diekstrak (Foto: lila/detikHealth)
Yogyakarta - Cabut gigi seperti menjadi momok bagi banyak orang. Belum lagi proses penyembuhan luka pasca operasi pencabutan gigi biasanya memakan waktu antara 1-2 minggu, dan ngilunya pun tentu tak tertahankan. Lantas bagaimana bisa luka cabut gigi bisa lekas sembuh?

Setidaknya Universitas Gadjah Mada punya penawarnya. Baru-baru ini tim peneliti muda dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM berhasil menciptakan gel yang dapat mempercepat penyembuhan luka cabut gigi yang diberi nama Spidweb Gel. Uniknya, gel ini terbuat dari jaring laba-laba.

Spidweb Gel sendiri merupakan buah pemikiran dari Effendi Halim, Mirna Aulia, Claudia Twistasari, Choirunisa Nur Humairo dan Bayu Anggoro Aji, di bawah bimbingan drg Alma Linggar Jonarta, M.Kes. Berkat gel dari jaring laba-laba ini, tim Effendi dkk pun lolos menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2014 yang akan digelar di Universitas Diponegoro Semarang pada 25-28 Agustus mendatang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas darimana ide membuat obat dari jaring laba-laba ini berasal? "Awalnya malah enggak kepikiran sama sekali. Beberapa judul yang kami ajukan enggak ada yang diterima karena terlalu umum. Trus tiba-tiba terpikir oh jaring laba-laba di rumah itu kan seperti sampah rumah tangga. Kemudian kami cari artikel penunjangnya, dan ternyata jaring laba-laba itu memang banyak khasiatnya," terang Effendi kepada detikHealth ketika ditemui di lokasi karantina mereka sebelum berangkat ke PIMNAS 2014 dan ditulis Jumat (22/8/2014).

"Di Jawa itu juga sudah sering dipakai untuk (penyembuhan) luka di kulit. Juga di India maupun Pegunungan Carpathia (Eropa). Jadi itu sebetulnya berasal dari pengobatan tradisional, kearifan lokal. Cuma kan masih jarang dibuktikan secara ilmiah. Belum diketahui kandungan apa yang membuatnya manjur untuk luka," timpal sang pembimbing, drg Alma.

Setelah diteliti, tim Effendi menemukan bahwa jaring laba-laba mengandung beberapa senyawa yang berkhasiat membantu mempercepat penyembuhan luka seperti vitamin K, sejenis protein yaitu asam nukleat dan antibakteri. Dan khasiat ini pun telah mereka ujicobakan sendiri pada 15 ekor marmut di laboratorium.

"Sebelumnya marmutnya itu kami anestesi (bius) terlebih dahulu, dibuat mati rasa supaya ketika (gigi depan bawahnya) dicabut tidak sakit. Kemudian diambil giginya trus nanti ditetesi dengan gel dari jaring laba-laba tadi tapi pake micropen. Kita teteskan cuma sekali, dan untuk satu kali aplikasi (penetesan) jumlahnya 10 mikroliter trus langsung dijahit, ditutup, kemudian ditunggu selama beberapa hari," jelas Claudia.

Tiga hari kemudian, tim mengambil lima marmut sebagai contoh percobaan. Setelah dibius, rahang kelima marmut ini dipotong dan dijadikan preparat histologis agar dapat dilihat kondisinya setelah diberi gel dari jaring laba-laba menggunakan mikroskop.

"Dari situ kita lihat di hari ke-3 (luka pada bekas cabutan gigi marmut yang diberi gel jaring laba-laba) sudah sama dengan kelompok kontrolnya di hari ke-7. Untuk kelompok kontrolnya kita pake betadine (povidone iodine) yang biasanya dipakai untuk menyembuhkan luka pasca cabut gigi. Ketika mencapai hari ke-7 kondisinya sudah setara dengan kontrolnya di hari ke-14, jadi lebih cepat 4 hari. Atau sekitar 4-7 hari percepatannya," sambung Bayu.

Artinya dengan mengaplikasikan gel ini, di hari ke-3 peradangan yang terjadi pada luka bekas cabut gigi marmut tampak sudah melewati fase peradangan. Padahal bila dengan menggunakan betadine (povidone iodine), fase tersebut baru selesai di hari ketujuh. Bahkan di hari ke-14, di dalam lubang bekas cabut gigi marmut tadi telah terbentuk jaringan kolagen yang nantinya berubah menjadi tulang dan gigi baru.

Sayang ketika detikHealth ingin melihat seperti apa bentuk Spidweb Gel yang dimaksud, tim Effendi mengutarakan bilamana gel tersebut telah habis dipakai untuk melakukan percobaan pada ke-15 marmut.

"Ya meskipun produknya belum jadi, tapi (temuan) ini sudah kami share ke berbagai jurnal internasional. Salah satunya di jurnal milik Farmasi UGM," tutup drg Alma yang juga staf pengajar Biologi Mulut FKG UGM tersebut.

(lil/up)

Berita Terkait