Siapa yang tahan dengan rasa nyeri pada luka bekas cabut gigi, apalagi bila proses penyembuhannya konon membutuhkan waktu hingga 1-2 minggu. Namun jangan khawatir, karena dalam beberapa tahun ke depan bisa jadi akan ada produk obat yang dapat mempercepat penyembuhan luka seperti ini.
Potensi ini ada pada Spidweb Gel, buah pemikiran lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM; Effendi Halim, Mirna Aulia, Claudia Twistasari, Choirunisa Nur Humairo dan Bayu Anggoro Aji. Gel yang terbuat dari ekstrak jaring laba-laba ini diklaim dapat mempercepat proses penyembuhan luka pasca operasi cabut gigi, meskipun baru diujicobakan pada hewan, yaitu marmut.
"Ini prospektif sekali karena awalnya sudah didasari oleh kearifan lokal. Dan kebetulan kami mencoba browsing di jurnal-jurnal untuk penyembuhan di rongga mulut ini baru pertama. (Lagipula) kalau bahannya dari alam kan dikatakan lebih tidak berisiko," tutur sang pembimbing, drg Alma Linggar Jonarta, M.Kes. kepada detikHealth dan ditulis Jumat (22/8/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, jaring sebenarnya bisa diambil langsung dari sarang si laba-laba. Akan tetapi itu akan memakan waktu lama dan merusak habitat si laba-laba. Beruntung, selama pengamatan tim menemukan bahwa laba-laba pilihan mereka bertelur tiap dua minggu sekali.
Oleh si induk laba-laba, telur-telur tadi dibungkus dengan jaring hingga menyerupai seperti kepompong. "Tapi nanti setelah menetas jaringnya itu bakal enggak kepake gitu jadi tetep disitu aja, nah jaring laba-laba bekas membungkus telur yang sudah tidak terpakai itu yang kita gunakan. Jadi tiap dua minggu itu kita ambil dan kita kumpulkan," ujarnya.
Menurut mereka, dalam empat bulan, jaring laba-laba yang terkumpul hanya mencapai 2 gram. Itu pun ketika sudah diekstrak, jumlahnya tinggal 0.2 gram saja. "Ini juga jadi salah satu kendala utama kami, produksi jaring laba-laba yang cukup lama dan sulitnya mendapatkan berat jaring yang diinginkan untuk dibuat ekstrak," timpal Effendi.
Namun begitu, dalam kurun 7-8 bulan mereka berhasil mengumpulkan 30-40 kantung jaring lebih untuk menghasilkan 2 gram gel. 2 gram gel ini pun sudah habis untuk melakukan percobaan pada 15 marmut.
"Setelah hasil pintalan jaring laba-laba itu dikumpulkan nanti pertama diekstrak dulu, karena itu kan masih ada zat-zat lain. Baru kemudian dibuat gel dengan menggunakan CMCNa (carboxyl methyl cellulose natrium). Itu senyawa, bentuknya persis bubuk agar-agar jadi kalo kena air berubah jadi gel. Sengaja dibuat seperti ini biar enggak terlalu cair kalo masuk ke lubang bekas cabutan gigi. Kalau agak padat kan mudah keluar," terang Mirna yang bertugas untuk membuat ekstraksi dari jaring laba-laba.
Ketika gel ini diujicobakan pada marmut, tim menemukan sel inflamasi atau sel yang mencegah bakteri atau mikroorganisme lain merusak jaringan luka muncul lebih cepat, yaitu di hari ke-3. Padahal pada pembandingnya, yaitu betadine (povidone iodine), sel radang baru muncul di hari ke-7.
"Jadi ada tiga proses penyembuhan luka normal yg dipercepat, pertama pembekuan darahnya (vitamin K), kedua masa inflamasinya (antibakteri yang membantu sel-sel inflamasi untuk menyerang bakteri pemakan jaringan luka), sama proses proliferasi, ketika fibroblast menjadi kolagen (asam nukleat yang mempercepat pembentukan kolagen sebagai cikal bakal tulang dan gigi baru)," timpal Claudia.
Claudia menambahkan rencananya mereka ingin membuat gel tersebut dalam bentuk produk sekali pakai agar lebih steril dalam pemakaiannya. "Modelnya mungkin kayak vitamin rambut atau obat tetes mulut untuk imunisasi bayi, disposable, langsung dibuang, jadi lebih aman," imbuhnya.
(lil/up)











































