Ini Daftar Sindrom dan Penyakit Baru Gara-gara Internet (2)

Ini Daftar Sindrom dan Penyakit Baru Gara-gara Internet (2)

- detikHealth
Selasa, 26 Agu 2014 16:04 WIB
Ini Daftar Sindrom dan Penyakit Baru Gara-gara Internet (2)
Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta - Maksud hati ingin bisa terus update dengan mengikuti perkembangan berbagai informasi yang ada melalui internet. Namun tak jarang ujung-ujungnya teknologi ini disalahgunakan dan digunakan secara berlebihan, sehingga menimbulkan dampak negatif bagi pemakainya.
 
Di samping kecanduan internet (tentu saja), ternyata ada gangguan baru yang menghinggapi fisik dan mental si penggemar internet. Simak lanjutan paparan tentang gangguan yang dimaksud, seperti halnya dirangkum detikHealth, Selasa (26/8/2014) berikut ini.

1. Depresi Facebook

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
'Depresi Facebook' terjadi karena orang yang mengalaminya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengakses situs jejaring sosial tersebut. Banyak di antaranya generasi muda yang mengalami masalah kepercayaan diri dan stres karena mereka mulai mengukur harga dirinya dengan 'keberhasilan' di dunia online, seperti jumlah teman dan 'likes' yang mereka dapatkan.

Bila sudah ekstrem, sebagian pengidap Depresi Facebook biasanya sampai melakukan penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, menyakiti diri sendiri atau mengalami gangguan makan.

2. Gameboy Back

Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Istilah ini ditemukan dua dokter bedah asal Belanda bernama Piet van Loon dan Andre Soeterbroek di tahun 2013. Menurut mereka, Gameboy Back merujuk pada kondisi di mana tulang belakang seseorang melengkung karena terbiasa duduk berjam-jam sembari main ponsel atau game konsol. Terkadang pinggang penderita Gameboy Back sampai pecah atau bergeser (herniated disc atau slipped disc).

Keduanya juga mengungkapkan, umumnya Gameboy Back paling sering terlihat pada anak-anak dan remaja usia 8-18 tahun. "Pada dasarnya, ini seperti menumbuhkan pohon bonsai: karena respons tulang sama halnya dengan kayu. Jika Anda memaksanya ke arah tertentu dalam waktu lama, maka ia akan tumbuh seperti itu," terang van Loon.

3. Computer Vision Syndrome

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Kondisi ini biasa dialami pekerja kantoran yang menatap layar komputer selama berjam-jam setiap harinya. Menurut pakar vitreoretinal dari RSCM Kirana, dr Elvioza, SpM(K), sindrom ini juga dapat menjangkiti orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan perangkat elektronik lain seperti komputer tablet atau smartphone.

Gejalanya adalah mata lelah dan perih. "Obatnya ya matanya diistirahatkan. Setiap satu jam menatap layar komputer, istirahatkan mata dengan memandang sesuatu yang jaraknya jauh (6-20 meter) selama lima menit," tutur dokter mata yang berpraktik di RSCM Kirana itu.

Bisa juga dengan melihat tanaman atau sesuatu yang simpel dan berwarna hijau seperti wallpaper di komputer.

4. WhatsAppitis

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Di awal tahun 2014, seorang dokter di Spanyol bernama Ines Fernandez-Guerrero dari Rumah Sakit Granada's General University mengklaim telah menemukan kasus pertama WhatsAppitis. Pasien wanita yang tak mau disebutkan namanya itu mendadak merasakan nyeri pada kedua pergelangan tangannya ketika bangun pagi.

Dari pemeriksaan, diketahui bahwa pasien itu tidak memiliki riwayat trauma atau kecelakaan. Wanita berusia 34 tahun tersebut juga tidak terlibat dalam aktivitas fisik berat pada hari sebelumnya.

Setelah diusut melalui perbincangan langsung dengan pasien, rupanya rasa nyeri pada kedua lengan si pasien itu ditimbulkan oleh penggunaan WhatsApp.

"Pasien itu sedang bertugas pada 24 Desember lalu saat Natal, dan hari berikutnya ia menjawab seluruh pesan yang dikirim ke ponsel pintarnya melalui layanan pesan instan WhatsApp. Ia menggenggam ponselnya, yang memiliki berat 130 gram, paling tidak selama enam jam," tutur dokter itu.

Selain WhatsAppitis, terdapat beberapa cedera atau gangguan lain akibat penggunaan piranti canggih. Misalnya Nitendoitis yang diakibatkan karena terlalu banyak menekan tombol gamepad, serta tenosinovitis yang disebabkan terlalu banyak berkirim pesan singkat dengan ponsel.

5. Social Jetlag

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Menurut Sleep Health Foundation, social jetlag terjadi ketika pekerjaan atau jadwal kegiatan tidak selaras dengan jam tubuh. Biasanya karena terlambat bangun tidur tetapi harus melakukan aktivitas. Akibatnya, Anda tak bersemangat ketika menjalani aktivitas seharian.

Biasanya, social jetlag terjadi di awal minggu setelah sebelumnya seseorang bisa lebih santai di akhir pekan. Durasinya mencapai dua sampai tiga jam. Meski demikian, diyakini social jetlag terjadi akibat ketergantungan seseorang terhadap teknologi.

"Menonton TV atau menggunakan komputer, ponsel, dan perangkat elektronik lain di kamar tidur bisa membuat Anda tidur larut malam padahal Anda harus mendapat waktu tidur yang cukup," tutur ahli psikologi tidur dari Victoria University, Profesor Dorothy Bruck.

6. Text Neck

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Istilah ini diciptakan oleh terapis fisik Dr Dean Fishman berupa sakit kepala disertai bahu dan leher yang pegal karena tak bisa lepas dari gadget seperti ponsel pintar atau tablet.

Dr Fishman mengaku menemukan istilah ini setelah memeriksa seorang pasien berusia 17 tahun di tahun 2008. Pasien ini datang dengan keluhan sakit kepala dan leher. "(Rupanya) remaja ini sering duduk di kursi dan posisi tubuhnya membungkuk untuk melihat layar smartphone," terang Fishman.
 
Mengapa ini bisa terjadi? Dr Fishman menjelaskan, rata-rata kepala manusia memiliki berat 10 kg dalam posisi normal. Jadi setiap satu inci Anda membungkukkan kepala, tekanan tulang belakang jadi berlipat ganda.

"Jadi ketika Anda sedang menatap layar smartphone di pangkuan Anda, leher seperti mengangkat beban 20-30 kg," tambah Fishman. Tak heran leher jadi terbebani karenanya, sehingga kemudian muncul nyeri yang kadang merembet ke kepala.
Halaman 2 dari 7
'Depresi Facebook' terjadi karena orang yang mengalaminya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengakses situs jejaring sosial tersebut. Banyak di antaranya generasi muda yang mengalami masalah kepercayaan diri dan stres karena mereka mulai mengukur harga dirinya dengan 'keberhasilan' di dunia online, seperti jumlah teman dan 'likes' yang mereka dapatkan.

Bila sudah ekstrem, sebagian pengidap Depresi Facebook biasanya sampai melakukan penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, menyakiti diri sendiri atau mengalami gangguan makan.

Istilah ini ditemukan dua dokter bedah asal Belanda bernama Piet van Loon dan Andre Soeterbroek di tahun 2013. Menurut mereka, Gameboy Back merujuk pada kondisi di mana tulang belakang seseorang melengkung karena terbiasa duduk berjam-jam sembari main ponsel atau game konsol. Terkadang pinggang penderita Gameboy Back sampai pecah atau bergeser (herniated disc atau slipped disc).

Keduanya juga mengungkapkan, umumnya Gameboy Back paling sering terlihat pada anak-anak dan remaja usia 8-18 tahun. "Pada dasarnya, ini seperti menumbuhkan pohon bonsai: karena respons tulang sama halnya dengan kayu. Jika Anda memaksanya ke arah tertentu dalam waktu lama, maka ia akan tumbuh seperti itu," terang van Loon.

Kondisi ini biasa dialami pekerja kantoran yang menatap layar komputer selama berjam-jam setiap harinya. Menurut pakar vitreoretinal dari RSCM Kirana, dr Elvioza, SpM(K), sindrom ini juga dapat menjangkiti orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan perangkat elektronik lain seperti komputer tablet atau smartphone.

Gejalanya adalah mata lelah dan perih. "Obatnya ya matanya diistirahatkan. Setiap satu jam menatap layar komputer, istirahatkan mata dengan memandang sesuatu yang jaraknya jauh (6-20 meter) selama lima menit," tutur dokter mata yang berpraktik di RSCM Kirana itu.

Bisa juga dengan melihat tanaman atau sesuatu yang simpel dan berwarna hijau seperti wallpaper di komputer.

Di awal tahun 2014, seorang dokter di Spanyol bernama Ines Fernandez-Guerrero dari Rumah Sakit Granada's General University mengklaim telah menemukan kasus pertama WhatsAppitis. Pasien wanita yang tak mau disebutkan namanya itu mendadak merasakan nyeri pada kedua pergelangan tangannya ketika bangun pagi.

Dari pemeriksaan, diketahui bahwa pasien itu tidak memiliki riwayat trauma atau kecelakaan. Wanita berusia 34 tahun tersebut juga tidak terlibat dalam aktivitas fisik berat pada hari sebelumnya.

Setelah diusut melalui perbincangan langsung dengan pasien, rupanya rasa nyeri pada kedua lengan si pasien itu ditimbulkan oleh penggunaan WhatsApp.

"Pasien itu sedang bertugas pada 24 Desember lalu saat Natal, dan hari berikutnya ia menjawab seluruh pesan yang dikirim ke ponsel pintarnya melalui layanan pesan instan WhatsApp. Ia menggenggam ponselnya, yang memiliki berat 130 gram, paling tidak selama enam jam," tutur dokter itu.

Selain WhatsAppitis, terdapat beberapa cedera atau gangguan lain akibat penggunaan piranti canggih. Misalnya Nitendoitis yang diakibatkan karena terlalu banyak menekan tombol gamepad, serta tenosinovitis yang disebabkan terlalu banyak berkirim pesan singkat dengan ponsel.

Menurut Sleep Health Foundation, social jetlag terjadi ketika pekerjaan atau jadwal kegiatan tidak selaras dengan jam tubuh. Biasanya karena terlambat bangun tidur tetapi harus melakukan aktivitas. Akibatnya, Anda tak bersemangat ketika menjalani aktivitas seharian.

Biasanya, social jetlag terjadi di awal minggu setelah sebelumnya seseorang bisa lebih santai di akhir pekan. Durasinya mencapai dua sampai tiga jam. Meski demikian, diyakini social jetlag terjadi akibat ketergantungan seseorang terhadap teknologi.

"Menonton TV atau menggunakan komputer, ponsel, dan perangkat elektronik lain di kamar tidur bisa membuat Anda tidur larut malam padahal Anda harus mendapat waktu tidur yang cukup," tutur ahli psikologi tidur dari Victoria University, Profesor Dorothy Bruck.

Istilah ini diciptakan oleh terapis fisik Dr Dean Fishman berupa sakit kepala disertai bahu dan leher yang pegal karena tak bisa lepas dari gadget seperti ponsel pintar atau tablet.

Dr Fishman mengaku menemukan istilah ini setelah memeriksa seorang pasien berusia 17 tahun di tahun 2008. Pasien ini datang dengan keluhan sakit kepala dan leher. "(Rupanya) remaja ini sering duduk di kursi dan posisi tubuhnya membungkuk untuk melihat layar smartphone," terang Fishman.
 
Mengapa ini bisa terjadi? Dr Fishman menjelaskan, rata-rata kepala manusia memiliki berat 10 kg dalam posisi normal. Jadi setiap satu inci Anda membungkukkan kepala, tekanan tulang belakang jadi berlipat ganda.

"Jadi ketika Anda sedang menatap layar smartphone di pangkuan Anda, leher seperti mengangkat beban 20-30 kg," tambah Fishman. Tak heran leher jadi terbebani karenanya, sehingga kemudian muncul nyeri yang kadang merembet ke kepala.

(lil/ajg)

Berita Terkait