"Rehabilitasi yang paling penting dilakukan adalah rehabilitasi rumah. Maksudnya adalah terapi semangat yang dilakukan oleh keluarga. Hal ini dilakukan agar semangat pasien untuk pulih bisa datang karena dukungan dari keluarga terdekat," kata dr Ibnu Benhadi, SpBS(K) dari RSU Bunda Menteng, Jakarta.
Oleh sebab itu, pada saat masa pemulihan dr Ibnu kerap mengajak keluarga untuk ikut menyemangati pasien dengan memberi terapi sederhana yang bisa diterapkan di rumah. Ia pun kerap menyuruh pasangan dari pasien untuk memberi 'terapi sun' atau ciuman agar pasien merasa dicintai dan terus disemangati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain rehabilitasi di rumah yang lebih banyak membangun mental pasien, fisioterapi juga penting dilakukan sebagai bentuk rehabilitasi medik. Dengan rehabilitasi rumah dan fisioterapi, setidaknya pasien stroke bisa melakukan kembali aktivitasnya walaupun tingkat kepulihannya tak 100 persen.
Pada dasarnya, jika penanganan stroke tak cepat dilakukan maka risiko kerusakan otak pun akan terjadi. Sebab sel-sel otak akan mati jika tidak mendapat suplai oksigen dan glukosa dari darah. Nah, matinya sel membuat saraf fungsi motorik, berpikir, dan berbicara tidak dapat digunakan dengan baik. Hal inilah yang membuat pasien stroke seakan menjadi tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apa-apa.
"Dengan penanganan yang cepat dan tepat pasien stroke masih punya harapan untuk hidup. Stroke berat bukan berarti putus harapan, masih ada harapan untuk melanjutkan hidup dengan kualitas tertentu walaupun memang kondisinya tidak pulih 100%," kata dr Heri Aminuddin, SpBS(K).
(up/up)











































