Kondisi khusus yang diidap oleh Phyllisity disebut obstructive sleep apnoea (OSA) atau gangguan apnea tidur. Orang dengan kondisi ini saat tidur otot tenggorokannya menjadi terlalu rileks dan kolaps menyebabkan sumbatan pada saluran pernapasan.
Dr. David Schulman, co-direktur dari Emory Clinic Sleep Disorders Lab mengatakan orang dengan OSA berisiko mengalami penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, dan mungkin kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biasanya orang dengan OSA dengan sendirinya akan terbangun saat suplai oksigen pada tubuh semakin sedikit. Akan tetapi pada bayi seperti Phyllisity OSA menjadi masalah yang lebih serius karena orang tua harus membantunya terbangun saat ia berhenti bernapas.
Dalam semalam Phyllisity bisa 20 kali mengalami serangan OSA. Tiap Phyllisity mengalami serangan OSA, Kylie atau Michael akan memberikan pertolongan napas buatan.
"Saya pikir seorang ibu tidak seharusnya melakukan resusitasi jantung paru pada bayinya sendiri. Phyllisity menjadi lemas dan biru dalam hitungan detik dan saya harus mengangkatnya segera. Jika dia tidak mulai bernapas dengan sendirinya saya harus turun tangan," ujar Kyle.
Kyle mengaku sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali Phyllisity harus dibawa ambulans karena sering mengalami serangan OSA.
"Ini pengalaman yang menakutkan bagi seluruh keluarga," tambah Kyle yang berasal dari Dereham, Norfolk, Inggris.
OSA sebetulnya dapat diobati dengan terapi continuous positive airway pressure (CPAP). Terapi melibatkan mesin seukuran kotak sepatu yang ditempatkan di sisi tempat tidur. Tabung menghubungkan mesin dengan masker dan mesin mendorong udara melalui jalan napas, menjaga saluran agar tetap terbuka. Akan tetapi terapi ini belum pernah dilakukan untuk bayi sehingga sampai sekarang Phyllisity belum dapat menjalankan terapi CPAP.
Juru bicara Norfolk and Norwich University Hospital mengatakan hingga kini pihaknya sedang merakit tes-tes vital penting untuk Phyllisity.
"Kami bekerja sama dengan keluarga dan pusat spesialis regional untuk menyelesaikan uji klinis yang diperlukan sesegera mungkin. Hasilnya akan memungkinkan kami untuk menawarkan pasien muda ini pengobatan yang terbaik," tutupnya.
(ajg/up)











































