Direktur Bina Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr Muchtaruddin Mansyur, SpOK, PhD, mengatakan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan sekolah adalah menyediakan kantin sehat untuk murid.
"Masalah keseimbangan gizi erat kaitannya dengan makanan yang dimakan oleh anak. Karena itu, untuk menghindari anak makan junk food atau jajanan tidak sehat, sudah seharusnya sekolah menyediakan kantin sehat," tutur dr Muchtaruddin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan menyediakan kantin sehat, anak akan terhindar dari jajanan tidak sehat yang berada di sekitar sekolah. Sehingga, keseimbangan gizi anak dapat terjaga dan diharapkan mampu menjadi SDM yang berkualitas kelak.
Masalah keseimbangan gizi anak memang menjadi salah satu perhatian khusus. dr Muchtaruddin mengatakan bahwa Indonesia mengalami beban ganda (double burden) akibat tingginya prevalensi anak kekurangan gizi dan juga anak kelebihan gizi.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dilakukan Kemenkes mengatakan prevalensi anak kurang gizi meningkat dari 17,9 persen pada 2010 menjadi 19,6 persen di 2013. Di lain pihak, anak obesitas juga naik dari sebelumnya 6,6 persen menjadi 8,1 persen.
"Ini menjadi masalah yang sering dihadapi negara berkembang. Di satu sisi anak kurang gizi meningkat, di sisi lain anak kelebihan gizi atau obesitas juga meningkat. Tentunya menjadi double burden karena mereka akan jadi bonus demografi Indonesia beberapa tahun mendatang," tuturnya lagi.
(ajg/up)











































