Penuhi Keseimbangan Gizi Murid, Sekolah Diminta Sediakan Kantin Sehat

Penuhi Keseimbangan Gizi Murid, Sekolah Diminta Sediakan Kantin Sehat

- detikHealth
Rabu, 27 Agu 2014 14:19 WIB
Penuhi Keseimbangan Gizi Murid, Sekolah Diminta Sediakan Kantin Sehat
Foto: M Reza (detikHealth)
Jakarta - Pemenuhan gizi anak sudah seharusnya menjadi perhatian serius, bukan hanya oleh orang tua di rumah, tetapi juga oleh pihak sekolah. Pasalnya, anak menghabiskan satu per tiga waktunya dalam sehari berada di sekolah.

Direktur Bina Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr Muchtaruddin Mansyur, SpOK, PhD, mengatakan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan sekolah adalah menyediakan kantin sehat untuk murid.

"‎Masalah keseimbangan gizi erat kaitannya dengan makanan yang dimakan oleh anak. Karena itu, untuk menghindari anak makan junk food atau jajanan tidak sehat, sudah seharusnya sekolah menyediakan kantin sehat," tutur dr Muchtaruddin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut ia ungkapkan dalam acara Sosialisasi Pedoman Gizi Seimbang Kepada Pendidik dan Kepala Sekolah - Madrasah di Gedung Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (BPPSDM), Jl Hang Jebat III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (27/8/2014).

Dengan menyediakan kantin sehat, anak akan terhindar dari jajanan tidak sehat yang berada di sekitar sekolah. Sehingga, keseimbangan gizi anak dapat terjaga dan diharapkan mampu menjadi SDM yang berkualitas kelak.

Masalah keseimbangan gizi anak memang menjadi salah satu perhatian khusus. dr Muchtaruddin mengatakan bahwa Indonesia mengalami beban ganda (double burden) akibat tingginya prevalensi anak kekurangan gizi dan juga anak kelebihan gizi.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dilakukan Kemenkes mengatakan prevalensi anak kurang gizi meningkat dari 17,9 persen pada 2010 menjadi 19,6 persen di 2013. Di lain pihak, anak obesitas juga naik dari sebelumnya 6,6 persen menjadi 8,1 persen.

"Ini menjadi masalah yang sering dihadapi negara berkembang. Di satu sisi anak kurang gizi meningkat, di sisi lain anak kelebihan gizi atau obesitas juga meningkat. Tentunya menjadi double burden karena mereka akan jadi bonus demografi Indonesia beberapa tahun mendatang," tuturnya lagi.

(ajg/up)

Berita Terkait