International Workshop on Modern Clinical Radiotherapy 2014 ini merupakan hasil kerjasama Himpunan Fisika Medik dan Biofisika Indonesia (HFMBI) dan Departemen Fisika FMIPA UI, dengan Departemen Radioterapi RSCM dan Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI), serta American Association of Physicist in Medicine (AAPM).
"Di sini kita sama-sama bekerja dan belajar supaya terapi radiasi itu bisa diberikan secara aman, baik bagi pasien maupun masyarakat sekitar," ungkap Kepala Departemen Onkologi Radiologi RSCM, dr Soehartati Gondhowiardjo, MD, PhD, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di RSCM, Jakarta, Kamis (28/7/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tercatat sekitar 120 peserta telah mendaftar, yang terdiri dari berbagai profesi berkaitan dengan pelayanan radioterapi, baik dari dalam negeri maupun internasional.
"Radioterapi seperti mata pisau dua sisi. Di satu sisi sangat berguna untuk mengobati pasien kanker, di sisi lain sangat berbahaya karena tidak berwarna dan tidak terasa. Nah, untuk memberi radiasi pada daerah yang diinginkan perlu teknologi," tutur dr Soehartati.
Adapun bahasan workshop tersebut di antaranya teknologi-teknologi radioterapi, tatalaksana radioterapi modern, prosedur jaminan kualitas alat radioterapi dan prosedur keselamatan pasien.
(ajg/up)











































