Naik Bianglala, Kepala Bobbie 'Melayang-layang' Sampai Setahun Kemudian

Naik Bianglala, Kepala Bobbie 'Melayang-layang' Sampai Setahun Kemudian

- detikHealth
Minggu, 31 Agu 2014 10:05 WIB
Naik Bianglala, Kepala Bobbie Melayang-layang Sampai Setahun Kemudian
Illustrasi: Thinkstock
Reading, Inggris - Selepas naik komidi putar atau bianglala, biasanya kita akan sedikit merasa pusing. Kliyengan ini pun sebenarnya berlangsung relatif singkat. Tapi apa jadinya bila seorang wanita asal Inggris terus merasakan pusing padahal naik bianglalanya sudah setahun lalu.

Wanita bernama Bobbie Lane ini mengaku setahun lalu ia mengunjungi sebuah festival di Reading, Inggris. Di sana ia naik wahana permainan sejenis bianglala yang dikenal dengan nama 'Superbowl'. Bianglala ini juga bisa membumbung ke udara sembari berputar dengan kecepatan tinggi.

Lane mengaku menikmati wahana tersebut, akan tetapi setelah permainan selesai dan ia turun dari bianglala, ia mengaku terus merasakan kliyengan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sesampainya di rumah, saya masih merasa pening. Saya seperti berada di laut lepas," tutur Lane seperti dikutip dari Livescience, Minggu (31/8/2014).

Anehnya, pening yang dirasakan Lane terus berlangsung hingga setahun kemudian. Karena khawatir, wanita berusia 26 tahun itu pun memeriksakan diri ke dokter. Oleh dokter, ia didiagnosis mengidap ' migraine variant balance disorder', salah satu jenis migrain yang cukup langka.

Selain itu penderitanya merasakan migrain sekaligus diikuti dengan munculnya sensasi pening dan kehilangan keseimbangan atau vertigo.

"Naik bianglala baru terasa menyenangkan kalau Anda merasa pening. Tapi seketika Anda turun dari wahana, Anda akan langsung tahu kalau Anda sudah menjejakkan kaki ke bumi lagi. Sedangkan pada penderita migrain ini, otaknya kesulitan untuk menginterpretasi informasi (kalau Anda sudah di bumi lagi) dengan cepat," terang Dr Sujana Chandrasekhar.

Direktur North Shore-LIJ Health System's Comprehensive Balance Center, New York ini menduga migrain mengganggu jalannya sinyal otak demi menjaga atau mengembalikan keseimbangan tubuh penderita, sehingga yang muncul adalah rasa pening.

"Mereka juga bisa merasakan pening saat menonton film 3D, latihan jumping jack, berjalan di tengah keramaian atau berada di situasi lain di mana otak butuh melalui proses yang kompleks dalam mengelola rangsangan visual," sambungnya.

Lantas bagaimana mengobatinya? Menurut Chandrasekhar obatnya beragam. Bisa dengan mengonsumsi obat-obatan tertentu tapi juga dibarengi dengan perubahan pola makan sekaligus terapi penglihatan.

"Jangan pakai obat mabuk darat lho, apalagi dalam waktu lama, karena obat ini berdampak buruk terhadap sistem saraf pusat," tutupnya.

(lil/up)

Berita Terkait