Peneliti dari Tufts University berani menyimpulkan hal itu setelah melakukan scanning otak pada 13 partisipan pria dan wanita yang mengalami kelebihan berat badan. Yang mereka amati dengan seksama adalah bagian otak mereka yang mengatur kegemaran seseorang pada makanan atau sesuatu, yang biasa disebut 'reward centre'.
8 orang di antaranya diminta ikut serta dalam sebuah program penurunan berat badan rancangan peneliti. Dalam program ini, tiap peserta diubah preferensi makanannya dari yang semula tinggi karbo menjadi rendah karbo, serta tinggi serat dan protein.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benar saja, setelah dipindai dengan MRI (magnetic resonance imaging) ditemukan adanya perubahan pada bagian otak yang mengatur kecanduan makanan tadi, terutama pada partisipan yang ikut diet khusus.
Buktinya, ketika peneliti memperlihatkan beberapa gambar makanan rendah kalori yang menyehatkan, bagian reward pada otak kelompok partisipan tersebut menunjukkan peningkatan reaksi. Di saat yang bersamaan, ketika mereka diperlihatkan makanan berkalori tinggi, sensitivitas di bagian otak tersebut cenderung menurun.
"Manusia tidak lahir tahu-tahu menyukai kentang goreng dan junk food atau membenci makanan sehat. Kondisi ini terjadi dari waktu ke waktu karena mereka memakannya berulang kali," tandas salah satu peneliti, Prof Susan B Roberts seperti dikutip dari BBC, Kamis (4/9/2014).
Dengan hasil yang diperoleh studi ini, Prof Roberts yakin otak bisa diajari untuk menyukai atau memilih makanan yang lebih menyehatkan.











































