RS di Kenya Manfaatkan Belatung untuk Percepat Penyembuhan Luka

RS di Kenya Manfaatkan Belatung untuk Percepat Penyembuhan Luka

- detikHealth
Kamis, 04 Sep 2014 15:15 WIB
RS di Kenya Manfaatkan Belatung untuk Percepat Penyembuhan Luka
(Foto: BBC)
Nairobi - Pengobatan alternatif dengan belatung sebenarnya telah digunakan nenek moyang sejak bertahun-tahun lamanya. Namun sejak ditemukannya antibiotik dan penisilin, pengobatan alami ini perlahan bergeser.

Seiring dengan berjalannya waktu, masalah baru yang muncul adalah resistensi antibiotik, tak peduli pada pasien anak maupun orang dewasa. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi kalangan medis. Untuk menyiasatinya, sebuah rumah sakit di Kenya pun berinisiatif untuk kembali memanfaatkan belatung sebagai terapi pengobatan.

"Pada dasarnya, belatung kan hanya makan jaringan tubuh yang mati. Tapi pada saat yang bersamaan, bila ada belatung, bakteri takkan tumbuh, sehingga luka jadi cepat sembuh," papar Dr Christopher Kibiwot, salah satu dokter yang ambil bagian dalam percobaan penggunaan terapi belatung di Kenyatta National Hospital.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mendapatkan belatung, pihak rumah sakit bekerjasama dengan Kenya Agricultural Research Institute (Kari). Phoebe Mukiria, pakar entomologi yang mengembangbiakkan belatung-belatung ini mengakui keunggulan belatung sebagai terapi pengobatan.

"Belatung akan membersihkan luka. Jaringan yang mati ia ubah jadi cairan yang mereka sedot sebagai makanan. Bahkan ia tidak akan memakan jaringan yang masih hidup jadi Anda takkan merasakan sakit," katanya seperti dikutip dari BBC, Kamis (4/9/2014).

Belatung yang dikembangbiakkan Kari berasal dari telur-telur lalat hijau yang ditetaskan. Telur-telur itu kemudian disterilisasi di dalam cairan khusus dan diinkubasi selama 24 jam. Setelah berubah menjadi belatung, beberapa jam berikutnya mereka akan dicuci dan dikemas dalam semacam kasa berbentuk sachet, persis seperti teh celup.

Barulah kemudian belatung-belatung itu diletakkan di dalam kotak pendingin dan siap dikirimkan ke rumah sakit. "Kalau dibekukan seperti ini, mereka bisa bertahan hidup hingga 24 jam jadi kami bisa mendistribusikannya ke rumah sakit yang jauh sekalipun," tambah Mukiria.

Dr Kibiwot sendiri mengaku berhasil menerapkan pengobatan kuno ini kepada beberapa pasiennya, meskipun baru pada tahap percobaan. Salah satunya kepada pasien wanita bernama Hannah Wagio. Wagio sepakat menjalani terapi belatung karena tak mampu membeli antibiotik.

"Sebagian pasien tentu skeptis dengan terapi ini. Namun setelah kami jelaskan hasilnya, bahkan kami katakan cara ini dapat mengurangi lama tinggal mereka di rumah sakit, mereka pun mau mencobanya," ujarnya.

Wagio memiliki luka menganga di tumitnya. Luka ini membuatnya sulit berjalan. Setelah sepakat, dokter membersihkan luka di kaki wanita muda ini. Ia pun sempat menggeliat kesakitan saat itu, apalagi kakinya memang telah mengeluarkan nanah karena tak segera dibersihkan.

Lantas Dr Kibiwot meletakkan satu sachet belatung di atas luka tersebut dan menutupnya dengan perban. "Tapi tidak saya tutup semuanya, karena belatung-belatung itu bisa mati lemas," imbuhnya.

Tak perlu menunggu lama, dalam waktu dua hari Wagio datang ke rumah sakit dengan muka sumringah. Katanya, rasa sakit di kakinya hilang sama sekali.

Menurut keterangan Dr Kibiwot, luka hasil 'digerogoti' belatung di kaki Wagio tampak bersih dan kering. Kantung berisi belatung-belatung tadi pun 'menggemuk'. Ketika dibuka, belatung-belatung itu tampak gemuk karena kenyang memakan jaringan mati di kaki Wagio.

Bagi pasien seperti Wagio, terapi ini sangat membantu. Tak hanya memperpendek masa opnamenya, tapi juga murah meriah dan tanpa efek samping seperti resistensi akibat konsumsi antibiotik.



(lil/up)

Berita Terkait