Menghirup xenon yang dicampur dengan oksigen, diyakini dapat meningkatkan stamina karena gas meningkatkan produksi protein yang dikenal sebagai hypoxia inducible factor 1, atau HIF1. H1F1 kemudian merangsang produksi erythropoietin (EPO) alami yang mengatur jumlah sel darah merah. Semakin banyak sel darah, semakin banyak pula oksigen yang dapat dibawa dan semakin besar stamina atlet yang menghirupnya.
Doping yang digunakan umumnya memakai EPO buatan dan menjadi salah satu ancaman integritas olahraga selama beberapa tahun terakhir. Pelarangan menggunakan EPO buatan ini membuat ilmuwan olahraga mengembangkan metode lain termasuk penggunaan xenon dan argon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, tes pemeriksaan untuk gas xenon dan argon belum diciptakan. Mengembangkan metode pemeriksaan bukan hal yang mudah. Selain xenon ada di udara yang kita hirup sehari-hari, xenon juga digunakan banyak negara sebagai anestesi.
Rabin mengaku timnya tinggal sedikit lagi menyelesaikan metode yang dapat digunakan dan diuji pada Court of Arbitration for sport. Jika lolos maka aturan pelarangan gas dapat diterapkan pada olahraga internasional.
Alasan lain pelarangan penggunaan xenon dan argon dikatakan oleh Wada karena dikhawatirkan akan adanya bahaya kesehatan jika gas digunakan dalam jumlah besar. Kedepannya sejalan dengan penelitian, tidak hanya xenon dan argon, gas lain dengan efek serupa juga akan dilarang penggunannya.
"Xenon dan argon hanya contoh. Besok setiap gas yang dapat menstimulasi HIF1 secara de facto dilarang," tutup Rabin.
(ajg/up)











































