Ini Pentingnya Lakukan Tes HIV Sebelum Menikah

Updated

Ini Pentingnya Lakukan Tes HIV Sebelum Menikah

- detikHealth
Rabu, 10 Sep 2014 11:15 WIB
Ini Pentingnya Lakukan Tes HIV Sebelum Menikah
Illustrasi: Thinkstock
Jakarta -

Rendahnya posisi tawar serta masih tingginya stigma negatif yang melekat pada perempuan HIV mengakibatkan perempuan tersebut menjadi rentan mendapatkan kekerasan. Pasalnya, para perempuan HIV seringkali kurang paham tentang hak mereka sebagai perempuan sekaligus warga negara.

Melly Windi Lianti, Program Manager Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), menilai bahwa salah satu sebab seringnya terjadi kekerasan pada perempuan HIV adalah‎ stigma negatif masyarakat yang berefek pada rendahnya posisi tawar mereka. Perempuan ODHA seringkali mendiamkan kekerasan yang terjadi karena takut kehilangan pasangan.

"'Kamu kan positif HIV, siapa lagi yang mau sama kamu?' Perkataan seperti itu menyudutkan perempuan, sehingga mereka akan menerima saja kekerasan yang dilakukan setelah menikah. Ini terjadi karena suami tidak tahu kondisi HIV istrinya sebelumnya," tutur Melly dalam diskusi bersama IPPI di Kantor Komisi Penanggulangan Aids Nasional, Jl Johar No 18, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/9/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu lumrah terjadi karena pada dasarnya siapapun yang tidak paham tentang HIV akan takut tertular jika memiliki pasangan yang HIV. Menurut Melly, jika tes HIV dilakukan sebelum menikah, rasa kaget, shock atau takut yang muncul dapat berkurang sehingga kekerasan yang terjadi juga dapat dicegah.

"Saat ini tes HIV masih bersifat sukarela. Dan untuk melakukan tes ini juga membutuhkan proses yang tidak hanya sekedar tes saja. Tapi harus mendapatkan konseling yang tepat sehingga jika memang ternyata hasilnya adalah HIV postitif, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana melakukan perencanaan ke depannya. Termasuk mendorong akses terhadap layanan kesehatan," sambungnya lagi.

Melly menuturkan bahwa memang memberi tahu status HIV positif menjadi hak individu masing-‎masing orang. Tidak mudah mengaku sebagai ODHA jika stigma negatif dari masyarakat masih sangat kencang.

Menurut hasil studi yang pernah dilakukan IPPI di tahun 2013 terkait kekerasan yang dialami oleh perempuan HIV, kekerasan yang dialami sebagian besar responden studi tersebut dilakukan oleh pasangannya yang merupakan pengguna NAPZA.

Sehingga salah besar jika perempuan ODHA dicap sebagai perempuan nakal atau pekerja seks komersial. Namun hal ini bukan berarti men-generalisir bahwa pengguna NAPZA pasti merupakan pelaku kekerasan.

"Hal pertama yang di lakukan jika mengetahui bahwa kita terinfeksi HIV adalah penerimaan. Menerima bahwa virus HIV sudah ada di dalam tubuh kita. Sehingga penanganan akan lebih cepat kita dapatkan terutama dalam hal akses ARV," tutupnya.

(mrs/ajg)

Berita Terkait