Pengumuman tersebut didasari oleh pemikiran kelompok global peneliti yang bertemu khusus untuk membahas terapi eksperimen yang dapat melawan Ebola. Pemikiran ini didasar oleh fakta bahwa beberapa orang dapat sembuh dari Ebola meski belum ada obatnya.
Orang yang terjangkit Ebola menghasilkan antibodi dalam darah dalam upaya untuk melawan infeksi. Antibodi dari pasien yang sembuh secara teori dapat ditransfer ke pasien yang sakit untuk mendorong sistem imun tubuh. Akan tetapi, pelaksaan praktik ini belum memiliki data yang cukup untuk membuktikan keefektifannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Marie Paule Kieny, asisten direktur WHO mengatakan pihaknya menyetujui adanya kemungkinan terapi darah dapat digunakan untuk melawan Ebola. Menurutnya segala daya dan upaya peneliti harus dicurahkan pada terapi ini untuk membantu negara yang terjangkit.
"Ada kesempatan nyata terapi menggunakan produk darah dapat digunakan dan efektif dalam hal merawat pasien," kata Dr Marie seperti dikutip dari BBC, Senin (8/9/2014).
Kesempatan yang dimaksud oleh Dr Marie di sini adalah ketersediaan darah dengan antibodi. Salah satu aspek positif dari mewabahnya Ebola adalah semakin banyak jumlah pasien yang sembuh.
"Sekarang ada banyak pasien yang sembuh dan baik-baik saja. Mereka dapat menyediakan darah untuk mengobati orang lain yang masih sakit," tutup Dr Marie.
(vit/vit)











































