Lawan Ebola, WHO Sarankan Terapi Menggunakan Darah Pasien yang Sudah Sembuh

Lawan Ebola, WHO Sarankan Terapi Menggunakan Darah Pasien yang Sudah Sembuh

- detikHealth
Senin, 08 Sep 2014 08:08 WIB
Lawan Ebola, WHO Sarankan Terapi Menggunakan Darah Pasien yang Sudah Sembuh
Cuci tangan mampu mengurangi risiko tertular Ebola (foto: Reuters)
Jakarta - World Health Organization (WHO) mengumumkan sebuah jalan medis menggunakan darah pasien mungkin dapat dilakukan untuk melawan epidemi Ebola di Afrika Barat.

Pengumuman tersebut didasari oleh pemikiran kelompok global peneliti yang bertemu khusus untuk membahas terapi eksperimen yang dapat melawan Ebola. Pemikiran ini didasar oleh fakta bahwa beberapa orang dapat sembuh dari Ebola meski belum ada obatnya.

Orang yang terjangkit Ebola menghasilkan antibodi dalam darah dalam upaya untuk melawan infeksi. Antibodi dari pasien yang sembuh secara teori dapat ditransfer ke pasien yang sakit untuk mendorong sistem imun tubuh. Akan tetapi, pelaksaan praktik ini belum memiliki data yang cukup untuk membuktikan keefektifannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada tahun 1995 terapi darah ini pernah dilakukan pada delapan pasien Ebola di Democratic Republic of Congo. Hasilnya tujuh dari delapan pasien tersebut dapat bertahan dari infeksi Ebola.

Dr Marie Paule Kieny, asisten direktur WHO mengatakan pihaknya menyetujui adanya kemungkinan terapi darah dapat digunakan untuk melawan Ebola. Menurutnya segala daya dan upaya peneliti harus dicurahkan pada terapi ini untuk membantu negara yang terjangkit.

"Ada kesempatan nyata terapi menggunakan produk darah dapat digunakan dan efektif dalam hal merawat pasien," kata Dr Marie seperti dikutip dari BBC, Senin (8/9/2014).

Kesempatan yang dimaksud oleh Dr Marie di sini adalah ketersediaan darah dengan antibodi. Salah satu aspek positif dari mewabahnya Ebola adalah semakin banyak jumlah pasien yang sembuh.

"Sekarang ada banyak pasien yang sembuh dan baik-baik saja. Mereka dapat menyediakan darah untuk mengobati orang lain yang masih sakit," tutup Dr Marie.

(vit/vit)

Berita Terkait