Hogewey, Desa Khusus Lansia Pengidap Alzheimer

Hogewey, Desa Khusus Lansia Pengidap Alzheimer

- detikHealth
Senin, 08 Sep 2014 11:35 WIB
Hogewey, Desa Khusus Lansia Pengidap Alzheimer
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Weesp, Belanda - Sepintas, desa ini mirip dengan desa-desa kecil lainnya yang ada di Belanda. Hanya saja, tak ada anak-anak atau remaja di desa ini. Sebab seluruh penduduknya adalah para lansia pengidap alzheimer.

Ya, desa yang bernama Hogewey tersebut sejatinya adalah fasilitas panti atau rumah asuh bagi pasien alzheimer yang mengalami demensia akut. Namun Yvonne van Amerongen, salah satu pendiri Hogewey, merasa bahwa rumah atau panti asuh yang konvesional tidak akan membuat pasien nyaman untuk tinggal.

"Aku memikirkan hal ini ketika ayahku meninggal. Kami sempat mencari-cari rumah atau panti asuh yang laik untuk ditinggalinya dan tak ada yang terasa seperti benar-benar rumah," tutur Yvonne seperti dikutip dari CNN dan ditulis Senin (8/9/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hogewey yang selesai dibangun pada tahun 2009 ini berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektare, dengan 23 unit rumah yang dilengkapi dengan taman untuk berjalan-jalan, minimarket serta 7 ruangan bertema.

Ruangan ini dapat menjadi tempat alternatif untuk pasien agar dapat bersantai menikmati hobi dan kegemaran. Beberapa contohnya adalah ruang seni untuk melukis dan menggambar, ruang seni rupa bagi yang hobi dan ingin mencoba membuat patung atau karya lain serta ruang agama yang berisikan musik serta buku-buku rohani.

Selain soal rasa nyaman, faktor keselamatan juga salah satu hal penting yang harus diperhatikan ketika merawat pasien demensia. Karena fungsi memori otak terganggu, pasien demensia sangat rentan untuk berjalan-jalan tanpa tujuan yang jelas dan akhirnya tersesat.

Akan tetapi di Hogewey, risiko tersebut dapat dihindari. Hanya ada satu gerbang yang berfungsi sebagai satu-satunya jalan masuk dan keluar ke desa tersebut.

"Para penduduk sangat dipastikan keamanannya. Pintu gerbang selalu tertutup dan jika ada penduduk yang ingin keluar, kami akan menjelaskan bahwa pintu tersebut terkunci atau rusak, dan mereka akan otomatis berputar kembali," tutur Yvonne lagi.

Tentunya, para lansia pengidap demensia ini tidak dibiarkan berjalan-jalan di dalam desa tanpa pengawas. Ada sekitar 250 staf yang bertugas untuk mengawasi, memberikan perhatian, serta mengurus berbagai keperluan 152 penduduk di desa ini.

Seluruh staf mempunyai standar kompetensi untuk merawat pasien demensia, dan disebar di berbagai toko dan bagian. Ada yang bekerja di salon, minimarket, toilet umum hingga koki dan pengawas ruangan.

Marjolein de Visser, salah satu staf, mengatakan bahwa hal paling utama yang tidak boleh dilakukan oleh petugas adalah mengatakan tidak atau membantah perkataan pasien. Alasannya, pasien akan bereaksi marah atau bingung jika diperlakukan seperti itu. Padahal tujuan Hogewey adalah membuat pasien merasakan ketenangan dan kenyamanan seperti layaknya di rumah sendiri.

"Tidak boleh mengatakan tidak atau menyanggah omongan pasien. Triknya adalah dengan membelokkan pertanyaan atau cerita ke arah lain. Karena ingatan mereka terganggu bukan berarti mereka tak bisa berpikir," tutur Marjolein.

(mrs/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads