Mulai dari menjaga stamina hingga sembuhkan kecanduan rokok. Itulah klaim penjual produk kopi herbal impor yang sudah beredar lama di pasar obat tradisional Indonesia. Seorang perokok menyebut rasa rokok seperti rokok basi setelah dia meminum kopi jamu tersebut.
"Saya minum kopi selama dua bulan. Jadi kalau merokok sambil minum kopi itu rasanya tidak enggak enak kaya kopi basi. Dulu bisa sebungkus rokok untuk dua hari, pas minum kopi itu tiga hari saja rokoknya enggak habis," kata Fayyas Ahmadullah (35), konsumen kopi jamu tersebut, kepada detikHealth, Senin (8/9/2014).
Fayyas mengatakan rasa rokok mulai berubah setelah dirinya minum kopi untuk dua sampai tiga hari. Dalam sehari Fayyas bisa mengonsumsi dua bungkus kopi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu bapak kalau merokok bisa dua sampai tiga bungkus terus saya kasih kopi itu sehari tiga bungkus. Reaksinya habis minum kopi dia mual, batuk, terus meriang seminggu. Katanya masa pengeluaran racun. Berapa hari setelah itu nyoba ngerokok lagi mulutnya pahit. Tidak enak buat ngerokok. Sejak itu dia tidak mau lagi," tutur karyawati di perusahaan swasta ini.
Menurutnya, efek kopi itu terlihat setelah sang ayah mengonsumsi kopi selama seminggu. Perlahan ayahnya mengurangi jumlah rokok yang dihisapnya sampai akhirnya berhenti sama sekali.
"Jadi bapak merokok merek yang paling mahal saja sekarang sudah tidak enak," tambah Listiawati.
Tidak hanya untuk berhenti merokok, manfaat dari kopi yang dikatakan mengandung tujuh bahan herba ini seperti tidak ada habisnya. Andi Budianto (32), warga Cibubur, Jakarta Timur, mengaku rajin mengonsumsi kopi selama hampir satu tahun untuk menjaga vitalitas badan.
"Sejauh ini sih enak, terus segar badan. Pasak buminya yang paling kerasa. Itu buat buang angin, jadi enggak masuk angin," tutur Andi yang mengatakan sekarang dirinya sudah berhenti minum kopi karena masalah suplai dan harga yang sulit terjangkau.
Sebelumnya, menanggapi kopi jamu yang diklaim bisa menghentikan kebiasaan merokok, ahli herbal dari Departemen Farmasi FMIPA UI, Abdul Mun'im, MSi, PhD, mengatakan ketergantungan sebenarnya tidak bisa diobati hanya dengan mengubah indra perasa saja. Hal ini disebabkan pengaruh zat adiktif pada rokok menyerang sel saraf dan mempengaruhi pola pikir.
"Kecanduan itu hubungannya sama saraf, masalahnya di situ. Karena misal pengidap narkoba meskipun darahnya dicuci bersih dia tetap enggak bisa lepas ketergantungannya. Kalau masalah racun mah mudah karena tubuh punya kemampuan mengeluarkan lewat hati dan urine," terangnya.
(vit/vit)











































