Awalnya peneliti menanyai lebih dari 25.000 pria tentang konsumsi sildenafil, atau yang lebih akrab disebut dengan Viagra ini. Pengamatan berlangsung selama 10 tahun. Hasilnya pun cukup mengejutkan.
Ternyata partisipan yang baru mengonsumsi Viagra tiga bulan sebelum studi dimulai berisiko 84 persen lebih besar untuk terserang kanker kulit paling mematikan, yakni melanoma beberapa bulan sesudahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menduga obat kuat ini dapat menekan produksi enzim PDE5A yang di satu sisi dapat membantu ereksi namun di sisi lain bisa meniru aktivasi mutasi pada sel seperti halnya yang terjadi pada pasien melanoma," tutur peneliti, Wen-Qing Li, Ph.D., seperti dikutip dari jurnal JAMA Internal Medicine, Senin (8/9/2014).
Kendati begitu, Li mengakui bilamana studi ini masih harus dikembangkan lagi agar bisa diketahui faktor di balik peningkatan risiko kanker kulit terkait dengan konsumsi obat kuat ini.
Hal ini diperkuat dengan pernyataan peneliti bahwasanya kasus melanoma yang mereka temukan pada partisipan hanyalah 14 kasus dari 1.378 pria yang rutin mengonsumsi obat kuat ini.
"Mungkin yang perlu digali lagi adalah seberapa banyak dosis dan frekuensi penggunaan Viagra yang berkaitan dengan risiko melanoma tersebut," imbuhnya.
Uniknya, di tahun 2011 sudah pernah ada studi yang mengatakan bahwa Viagra dapat membantu memerangi kanker kulit. Para ilmuwan dari German Cancer Research Center (DFKZ) dan Medical Faculty Mannheim di Heidelberg University menemukan bahwa tikus yang mengidap melanoma dan diberi sildenafil (bahan aktif dalam Viagra) memiliki harapan hidup lebih lama ketimbang tikus yang terserang melanoma tapi tidak diobati.
Lantas mana yang benar? Seperti halnya peneliti pertama, tim peneliti dari Jerman juga mengaku hasil riset mereka masih harus digali lebih mendalam.











































