"Dari segi jumlah kita tidak ada masalah, kita jumlah bidannya banyak, dari jumlah sekolah yang terlalu banyak juga. Tapi kita bicara kualitas yang masing-masing sekolah beragam. Concern kita ke depannya kualitas bidan bisa meningkat," ungkap Ketua Ikatan Bidan Indonesia, Emi Nurjasmi, dalam acara yang diselenggarakan di Hotel J.S Luwansa, Jakarta.
Menurut Emi, masalah kualitas bidan tidak bisa dilakukan oleh para bidan sendiri. Diperlukan kerjasama dengan sektor-sektor lain yang terkait. Terutama dari segi pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendapat serupa diamini oleh perwakilan dari Maternal and Reproductive Health WHO, Rustini Floranita. Menurutnya kualitas bidan di Indonesia masih menjadi tantangan serius. "Masalah inilah yang perlu kita tindaklanjuti terus-menerus," ujar Rustini.
Salah satu bentuk kerjasama yang telah dilakukan adalah perbaikan kualitas melalui uji kompetensi dan sertifikasi untuk bidan, yang telah disepakati bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Kesehatan. Mulai dari menata hingga memfasilitasi standar kompetensi dan pendidikan.
"Sejak November 2013, uji kompetensi ini jadi syarat untuk lulus. Jadi seorang bidan harus ikut uji kompetensi nasional. Kemarin memang agak sedikit dapat kendala, kebanyakan masih mempertanyakan pelaksanaan ujian ini. Tapi sekarang Kemendikbud dan Kemenkes sedang merancang kebijakan nasional mengenai uji kompetensi lagi," terang Emi.
(ajg/vit)











































