Banyak penelitian telah dilakukan untuk mencari efek bullying kepada kesehatan seseorang. Perilaku bullying yang kebanyakan diteliti melibatkan hubungan di sekolah, tempat kerja, atau antar pasangan. Namun peneliti dari University of Oxford yang dipimpin oleh Lucy Bowes mengatakan masih ada pola hubungan bullying yang terabaikan oleh para peneliti, dokter, dan pembuat kebijakan. Pola hubungan tersebut adalah hubungan antar saudara di rumah.
Oleh karena itu, para peneliti dari University of Oxford tersebut melakukan studi yang melihat dampak bullying yang dilakukan oleh saudara. Peneliti mengikutsertakan 6.928 anak dari Inggris ke dalam penelitian. Anak-anak diberikan pertanyaan apakah mereka pernah diintimidasi oleh saudara mereka pada usia 12 tahun kemudian dievaluasi tingkat depresi, kecemasan, dan siksa dirinya pada usia 18 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Korban dari bullying oleh saudara dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan rasa depresi pada awal masa dewasa jika dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mengalami bullying," tulis para peneliti dalam laporannya seperti dikutip dari Reuters, Selasa (9/9/2014).
Peneliti tidak dapat memastikan bahwa bullying yang dilakukan oleh saudara berhubungan langsung dengan rasa depresi dan tindakan menyiksa diri. Akan tetapi para peneliti memperkirakan bahwa 13 persen rasa depresi dan sekitar 19 persen tindakan menyakiti diri mungkin diakibatkan bullying oleh saudara sendiri.
Rasa depresi dan tindakan menyakiti diri yang terus menumpuk ini, di dalam studi lain dikatakan dapat berakibat pada kecenderungan bunuh diri.
(vit/vit)











































