"Multifaktor pertama faktor keturunan genetik. Biasa ada di derajat pertama adik-kakak, orang tua-anak, paman-keponakan. Tetapi bisa juga skip dua generasi meski ayah atau nenek nggak ada tapi di generasi sebelumnya ada," terang Dr dr Nurmiati Amir, SpKJ(K).
Selain faktor genetik, dokter yang biasa disapa dr Eti ini mengatakan faktor kehamilan juga bisa memengaruhi. Ketika ibu hamil dan mengalami hipertensi akan menyebabkan aliran darah ke otak kurang. Atau, perdarahan kehamilan sehingga otak tidak berkembang sempurna sehingga timbul minimal brain damage atau ada sistem dalam otak yang tidak baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dr Eti, jika ada faktor genetik, sejak kecil anak akan terlihat berbeda. Mereka cenderung sangat pemalu, penakut, tidak terlalu hangat, dan ekspresi wajahnya terbatas. Nah, kondisi inilah yang kadang-kadang mendapat respons lingkungan tidak terlalu baik.
"Kalau nggak begitu, anak sering menerima kekerasan verbal dicaci maki, atau kekerasan fisik yang menyebabkan perubahan kimia otak. Pada suatu hari saat ada perubahan hormon di masa remaja, diaktifkan kembali perubahan ini sehingga muncul trauma itu. Jadi skizo bukan terjadi karena faktor tunggal," lanjut dr Eti.
Pada laki-laki, gejala skizofrenia bisa terjadi di usia 15-16 tahun sedangkan pada perempuan pada usia 20-25 tahun. dr Eti mengatakan gejala positif akan lebih mudah dikenali. Misalnya saja yang bersangkutan sering marah-marah, emosinya meledak-ledak, curiga pada orang yang cenderung lebih menarik perhatian orang sehingga lebih cepat tertangani. Sebaliknya, gejala negatif yakni tidak melakukan sesuatu yang lumrah dilakukan orang normal, seperti diam saja, tidak mau mandi, justru didiamkan saja.
"Gejala awal harus dikenali. Anak yang awalnya baik-baik aja tau-tau nggak mau keluar rumah, menarik diri, nggak mau mandi, main internet aja, nggak peduli lagi harus waspada.
(rdn/vit)











































