Kepatuhan Pengobatan pun Berperan Penting untuk Kesembuhan Pasien Tumor Mata

Kepatuhan Pengobatan pun Berperan Penting untuk Kesembuhan Pasien Tumor Mata

- detikHealth
Minggu, 14 Sep 2014 13:03 WIB
Kepatuhan Pengobatan pun Berperan Penting untuk Kesembuhan Pasien Tumor Mata
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Untuk segala penyakit termasuk retinoblastoma atau tumor mata, deteksi dini penting agar penanganan penyakit lebih cepat sehingga harapan sembuh pasien pun lebih besar. Tapi deteksi dini saja tidak cukup karena diperlukan hal lain untuk mendukung kesembuhan pasien yakni kepatuhan berobat.

"Deteksi dini meningkatkan angka keberhasilan pengobatan retinoblastoma? Belum tentu. Ada pasien leukokoria (manik mata putih) pengobatannya disetop, dibawa ke pengobatan lain, justru makin parah terus baru dibawa lagi ke kita," kata Prof Dr dr Rita S Sitorus MD, PhD, SpM(K) dari RS Cipto Mangunkusumo.

Maka, menurut Prof Rita, tantangan utama pengobatan retinoblastoma adalah deteksi dini dan kepatuhan pengobatan. Diakui Prof Rita, seringkali saat anak divonis retinoblastoma dan diminta melakukan, orang tua lantas tidak melaksanakan terapi pengobatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penolakan seperti ini bisa menjadi penyebab kegagalan pengobatan retinoblastoma pada anak di negara berkembang, demikian diutarakan Prof Rita dalam Seminar Ilmiah 'Mengenali Tanda-tanda Dini Kanker pada Anak' hasil kerja sama Yayasan Onkologi Anak Indonesia dan RS Dharmais di RS Dharmais, Slipi, Jakarta Barat, dan ditulis pada Minggu (14/9/2014).

"Memang ada beberapa alasan penolakan ini. Secara psikologi, orang tua shock mendengar kondisi anaknya, kemudian disuruh menetapkan ya atau tidak melakukan terapi. Lainnya, bisa kendala biaya serta akomodasi dan transportasi bagi yang tempat tinggalnya jauh dari RS," kata Prof Rita.

Walaupun begitu, diharapkan Prof Rita keluarga tidak lantas pasrah dan enggan mengobati si anak. "Untuk biaya sekarang kan ada BPJS, bantuan dari yayasan, charity bisa kita lakukan. Untuk keperluan akomodasi dan transport sekarang kan sudah tersedia rumah-rumah singgah," imbuh Prof Rita.

Penelitian yang dilakukan Prof Rita bersama rekannya pada tahun 2010 di RSCM menemukan terdapat 31% pasien yang menolak temporer (menolak kemudian datang lagi) untuk menjalani pengobatan atau operasi pengangkatan mata. Kemudian, 18% pasien menolak pengobatan dan tidak datang lagi.

"Yang menolak angka harapan hidupnya lebih rendah. Dengan demikian, perlu revolusi konsep bahwa deteksi dini aja tidak cukup tetapi penting edukasi pada orang tua sehingga tidak terjadi penolakan untuk pengobatan, justru bisa terjadi kepatuhan pengobatan," tutur Prof Rita.

Hal lain yang perlu diingat menurut Prof Rita yakni deteksi dini bisa dioptimalkan dengan peran dari dokter dan penyedia layanan kesehatan lainnya di fasilitas kesehatan tingkat I, seperti puskesmas.

(rdn/ajg)

Berita Terkait