"Deteksi dini meningkatkan angka keberhasilan pengobatan retinoblastoma? Belum tentu. Ada pasien leukokoria (manik mata putih) pengobatannya disetop, dibawa ke pengobatan lain, justru makin parah terus baru dibawa lagi ke kita," kata Prof Dr dr Rita S Sitorus MD, PhD, SpM(K) dari RS Cipto Mangunkusumo.
Maka, menurut Prof Rita, tantangan utama pengobatan retinoblastoma adalah deteksi dini dan kepatuhan pengobatan. Diakui Prof Rita, seringkali saat anak divonis retinoblastoma dan diminta melakukan, orang tua lantas tidak melaksanakan terapi pengobatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang ada beberapa alasan penolakan ini. Secara psikologi, orang tua shock mendengar kondisi anaknya, kemudian disuruh menetapkan ya atau tidak melakukan terapi. Lainnya, bisa kendala biaya serta akomodasi dan transportasi bagi yang tempat tinggalnya jauh dari RS," kata Prof Rita.
Walaupun begitu, diharapkan Prof Rita keluarga tidak lantas pasrah dan enggan mengobati si anak. "Untuk biaya sekarang kan ada BPJS, bantuan dari yayasan, charity bisa kita lakukan. Untuk keperluan akomodasi dan transport sekarang kan sudah tersedia rumah-rumah singgah," imbuh Prof Rita.
Penelitian yang dilakukan Prof Rita bersama rekannya pada tahun 2010 di RSCM menemukan terdapat 31% pasien yang menolak temporer (menolak kemudian datang lagi) untuk menjalani pengobatan atau operasi pengangkatan mata. Kemudian, 18% pasien menolak pengobatan dan tidak datang lagi.
"Yang menolak angka harapan hidupnya lebih rendah. Dengan demikian, perlu revolusi konsep bahwa deteksi dini aja tidak cukup tetapi penting edukasi pada orang tua sehingga tidak terjadi penolakan untuk pengobatan, justru bisa terjadi kepatuhan pengobatan," tutur Prof Rita.
Hal lain yang perlu diingat menurut Prof Rita yakni deteksi dini bisa dioptimalkan dengan peran dari dokter dan penyedia layanan kesehatan lainnya di fasilitas kesehatan tingkat I, seperti puskesmas.
(rdn/ajg)











































