Studi: Siswi yang Berprestasi Cenderung Terhindar dari Seks Berisiko

Studi: Siswi yang Berprestasi Cenderung Terhindar dari Seks Berisiko

- detikHealth
Senin, 15 Sep 2014 13:31 WIB
Studi: Siswi yang Berprestasi Cenderung Terhindar dari Seks Berisiko
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Jika anak perempuan Anda yang masih sekolah kerap membolos dan nilai ulangannya selalu jeblok, Anda perlu memberi perhatian lebih. Bukan cuma prestasi akademiknya yang dikhawatirkan, namun juga aktivitas seksualnya. Sebab studi menyebutkan adanya kaitan antara prestasi di sekolah dengan aktivitas seks berisiko.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Adolescent Health itu dilakukan setelah menelaah diari 80.000 gadis remaja berusia 14 hingga 17 tahun.

Kemudian para peneliti mencatat temuan penting terkait hubungan percintaan dan perilaku seksual 387 gadis di antaranya. Ke-387 gadis tersebut dipantau selama 10 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, para gadis ini diminta untuk memberikan laporan harian yang berisi informasi kegiatan dan moodnya. Dari laporan tersebut dapat ditelaah dan diambil kesimpulan bahwa prestasi akademis yang baik berkaitan dengan kegiatan seks berisiko yang lebih rendah.

"Studi ini menunjukkan bahwa gadis yang sering bolos sekolah dan gagal dalam ujian secara signifikan terkait dengan kegiatan seks yang lebih sering, jarang menggunakan kondom, dan memiliki emosi seksual yang berbeda di hari yang sama," tutur peneliti utama studi tersebut, Devon Hensel, dari Indiana University, seperti dikutip dari Counsel Heal, dan ditulis pada Senin (15/9/2014).

Hasil studi ini sejalan dengan studi serupa yang digelar sebelumnya. Namun Hensel mengklaim studi terbaru ini lebih akurat ketimbang sebelumnya karena menggunakan informasi retrospektif. Dia memaparkan kekuatan studi ini adalah karena menggunakan laporan kegiatan sehari-hari yang sifatnya multipel. Dengan demikian informasinya lebih valid dan lebih nyata.

"Terlihat bahwa prestasi akademis seorang gadis dan tingkah lakunya dalam percintaannya saling terkait," sambung Hensel yang juga menjadi asisten peneliti profesor pediatrik di IU School of Medicine dan asisten profesor sosiologi di Indiana University-Purdue University Indianapolis.

Menurut dia, hubungan percintaan menjadi fokus sosial utama. Sebab bagaimanapun sekolah bisa menjadi tempat bertemunya para gadis dengan laki-laki muda yang dijadikannya pacar. Di sekolah pula, keterampilan yang mendasari hasil akademis seperti komunikasi, kesadaran emosional, dan kemampuan mengontrol perilaku berkembang. Keterampilan tersebut juga digunakan dalam hubungan yang dijalin oleh para gadis tersebut.

Hensel menuturkan pengalaman emosional dan perilaku dalam hubungan percintaan seorang gadis muda pun bisa memengaruhi reaksinya terhadap kegiatan dan prestasi akademisnya. Di sini, peran sang pacar juga berpengaruh. Misalnya aktivitas seks berisiko bisa tidak terjadi meskipun yang bersangkutan gagal mendapatkan nilai yang baik jika pacar gadis itu selalu memberi dukungan positif. Tapi bilang sang pacar memberi tekanan negatif, misalnya untuk bolos sekolah, maka hal itu bisa diikuti kegiatan negatif lainnya, seperti seks berisiko.

(vta/ajg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads