Tenaga Kesehatan Juga Berisiko Tinggi Tertular Hepatitis B

Tenaga Kesehatan Juga Berisiko Tinggi Tertular Hepatitis B

- detikHealth
Selasa, 16 Sep 2014 16:00 WIB
Tenaga Kesehatan Juga Berisiko Tinggi Tertular Hepatitis B
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Dibanding hepatitis C, daya tular hepatitis B cenderung lebih tinggi. Terlebih bagi mereka yang memiliki kontak langsung dengan darah pasien, seperti tenaga kesehatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan perlindungan bagi tenaga kesehatan untuk meminimalisir kemungkinan penularan hepatitis B dan C.

"Diperlukan vaksinasi bagi kelompok berrisiko tinggi untuk tertular hepatitis B terutama pegawai kesehatan seperti petugas kesehatan karena mereka kan melakukan kontak langsung dengan darah," tegas pakar hepatitis Prof Dr dr Ali Sulaiman SpPD, KGEH dari Divisi Hepatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Apalagi, diutarakan akademisi dr Lukman Hakim Tarigan MSc, data survei Litbangkes dan parameter penelitian hepatitis B internasional menemukan di tahun 2013 kurang lebih ada 7.000 tenaga kesehatan di Indonesia yang terinfeksi hepatitis B.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"4.900 di antaranya disebabkan karena tertusuk jarum suntik, sementara 2.100 terinfeksi dari populasi," ujar dr Lukman saat ditemui di kantor Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta, Selasa (16/9/2014).

Oleh karena itu, perlindungan yang lebih optimal diharapkan dr Lukman bisa diberikan kepada tenaga kesehatan salah satunya dengan memberi imunisasi terutama tiga kali dosis yang 90 persen efektif memberi kekebalan tubuh terhadap virus hepatitis B.

Sementara itu, Plt Dirjen P2PL Prof Dr dr Agus Purwadianto, SH,MSi,SpF(K) mengatakan untuk mencegah risiko penularan virus hepatitis dari tenaga kesehatan, salah satu caranya dengan memastikan tenaga kesehatan yang bersangkutan bebas atau minimal sudah pernah mendapat vaksin hepatitis.

"Misalnya untuk bekerja di RS atau faskes lain atau bagi dokter untuk memperoleh izin praktik dia harus sudah diimunisasi lengkap atau hasil tes bahwa yang bersangkutan bukanlah carrier," tutur Prof Agus.



(rdn/vta)

Berita Terkait