Selasa, 16 Sep 2014 19:17 WIB

Tak Bergejala, Skrining Penting untuk Deteksi Dini Hepatitis B

- detikHealth
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Meski sudah tersedia vaksin untuk hepatitis B, hampir 70 persen pasien penyakit ini tidak menimbulkan gejala hingga saat ditangani kondisinya pun sudah parah. Untuk deteksi dini, skrining pun perlu dilakukan.

Seperti penuturan Prof Dr dr Ali Sulaiman SpPD, KGEH dari dari Divisi Hepatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI,
hepatitis B kronik tidak bergejala. Justru keberadaan virus hepatitis B baru diketahui ketika dilakukan cek kesehatan secara tidak sengaja.

"Tahunya waktu pas dilakukan check up tidak sengaja mau jadi polisi atau tes kerja, eh ternyata sudah beberapa tahun dan sudah parah. Maka dari itu, skrining penting sekali dan juga vaksinasi," kata dr Ali saat ditemui di kantor Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2014).
 
Jika sudah melakukan deteksi dini dengan skrining, jika memang positif sebaiknya jangan dibiarkan saja dan berpikir dengan istirahat saja pun bisa sembuh. Justru perlu adanya monitor untuk mengetahui virus tersebut aktif atau tidak.

"Kalau aktif harus segera diobati atau harus ditunda, artinya kita monitor terlebih dulu. Pengobatan hepatitis B secara garis besar butuh waktu 2 tahun, Kita beri terapi pengobatan dengan terus memonitor misalnya tiap tiga bulan sekali," papar dr Ali.

Ia menambahkan, hepatitis B jauh berbeda dengan hepatitis A yang penangannya lebih mudah, termasuk dengan banyak istirahat dan pola hidup bersih. Sebab, virus hepatitis A masuk ke tubuh lewat makanan yang tidak dimasak dengan benar.

"Untuk mengatasinya cukup masak makanan sampai matang, virus akan mati. Juga budayakan cuci tangan dengan sabun. Hepatitis A tidak menahun, gejala mata kuning sebenernya nggak perlu dirawat, di rumah saja bisa sembuh. Kecuali kalau pasien sudah sepuh, ada komplikasi memang sebaiknya dirawat," terang dr Ali.

(rdn/vta)