Calon Dokter Kena Serangan Jantung Saat Donorkan Spermanya

Calon Dokter Kena Serangan Jantung Saat Donorkan Spermanya

- detikHealth
Rabu, 17 Sep 2014 10:15 WIB
Calon Dokter Kena Serangan Jantung Saat Donorkan Spermanya
Zheng Gang dan bilik dalam klinik di mana ia ditemukan meninggal (Foto: Mirror)
Wuhan, Tiongkok - Seorang pria dikabarkan meninggal akibat serangan jantung, itu sudah biasa. Tapi yang terjadi di Tiongkok ini cukup unik karena pria ini mengalami serangan jantung saat sedang melihat-lihat majalah erotis ketika mencoba mendonorkan spermanya.

Sejak bulan Januari 2011, Zheng Gang sepakat untuk mengikuti program donor sperma yang diadakan kampusnya, Wuhan University dan ia memang diakui salah satu pendonor aktif. Bahkan Zheng juga teman-temannya untuk melakukan kegiatan serupa demi kepentingan masyarakat.

Seperti dikutip dari Mirror, Rabu (17/9/2014), hari nahas itu adalah hari keempat Zheng mendonorkan sperma dalam seminggu. Keanehan mulai terlihat ketika para perawat yang bertugas di klinik tersebut mengetahui Zheng tak kunjung keluar dari bilik pribadinya setelah dua jam berlalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biasanya untuk mendonorkan spermanya, mahasiswa kedokteran dari Wuhan University tersebut tak pernah menghabiskan waktunya selama itu.

Penasaran, tim medis pun segera memeriksa ke bilik Zheng dan benar saja, pria berusia 23 tahun itu telah ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri di lantai kamar. Ia pun segera diberi nafas buatan namun terlambat. Zheng akhirnya dinyatakan meninggal saat itu juga.

Kejadian ini sebenarnya telah berlangsung sejak bulan Februari 2012. Namun baru terkuak ke permukaan setelah pengadilan Wuhan menjatuhkan vonis untuk kasus ini beberapa hari yang lalu. Awalnya keluarga Zheng menuntut bank sperma Wuhan University karena dianggap bertanggung jawab atas kematian Zheng.

Mereka juga menuntut ganti rugi sebesar 500.000 poundsterling (sekitar Rp 9.6 miliar) karena bank sperma ini dituding memaksa Zheng untuk ambil bagian dalam program pendonoran sperma dan karena tim medis yang ada di klinik tidak menangani Zheng dengan semestinya ketika ditemukan terbaring tak berdaya di biliknya.

Namun tuntutan ini ditolak oleh pengadilan karena Zheng terbukti memutuskan untuk ambil bagian dalam program tersebut karena keinginannya sendiri. Pengadilan hanya mewajibkan bank sperma untuk memberikan biaya pemakaman kepada keluarganya.

Istri Zheng, Wu yang juga mahasiswi Wuhan University dikabarkan juga menerima pemotongan biaya kuliah sebesar 2.000 poundsterling (setara dengan Rp 38,5 juta). Seperti dikutip dari Changjian Times, pihak kampus pun menjanjikan akan membantu mencarikan pekerjaan untuk Wu ketika ia lulus nanti.


(lil/vta)

Berita Terkait