Saat itu bulan Agustus 2011, dunia digegerkan dengan kabar pemberontak Libya berhasil mengkudeta Moammar Gadhafi. Colleen McEdwards hendak pulang ke rumah ketika berita itu harus diturunkan. Namun sesuatu yang aneh terjadi kepadanya.
Pertama, mantan pembawa berita CNN itu tiba-tiba mengeluh lampu studio terlalu silau. Ia juga kesulitan memfokuskan kedua matanya ke depan kamera. Beruntung mereka tak menggunakan teleprompter ketika harus mengabarkan breaking news, karena McEdwards yakin ia tak mampu membaca satu kata pun yang muncul di layar.
Namun tanpa disangka, McEdwards mendadak kesusahan merangkai kata-kata di otaknya. Padahal sebagai pembawa berita yang telah berpengalaman selama bertahun-tahun, hal ini bukanlah hal yang sulit baginya. Beruntung breaking news malam itu berjalan lancar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi saat saya terbangun keesokan sore, saya melihat segala sesuatu di sekeliling saya seperti miring. Ketika berdiri, saya harus berjalan sambil berpegangan dengan kedua tangan saya," kisahnya seperti dikutip dari CNN, Rabu (17/9/2014).
Menurut dokter yang pernah memeriksanya, McEdwards dikira mengidap penyakit Meniere karena ia memang pernah kehilangan pendengaran di telinga kirinya. Namun ternyata bukan. McEdwards kadung panik. Ia khawatir akan tuli karena apa yang dialaminya itu.
Hingga berbulan-bulan kemudian barulah ia menemukan dokter yang bisa mendiagnosis keadaannya dengan benar. Ia mengidap apa yang disebut dengan 'Gangguan Vestibular' atau biasa disebut dengan vertigo. Menurut Vestibular Disorders Association (VEDA), diperkirakan ada 35 persen orang Amerika berumur 40 tahun yang mengalami vertigo, atau jumlahnya sekitar 70-an juta orang.
Akan tetapi kebanyakan penderita gangguan ini tidak terdiagnosis dengan baik. Masalahnya gangguan ini bukan hanya terjadi karena cedera pada kepala atau otak saja, setiap orang bisa saja terserang gangguan yang rasanya seperti 'badai di dalam kepala' ini.
McEdwards sendiri mengaku gejala vertigo yang dialaminya merupakan kombinasi antara tuli sebagian dan lingkungan kerjanya seperti cahaya lampu yang tajam, suara perkantoran yang bising, stres yang intens dan kelelahan karena bekerja selama 24 jam sebagai pembawa berita internasional.
Dr Ted Carrick, seorang pakar neurologi dari Florida menerangkan, "Orang-orang dengan gangguan vestibular biasanya kehilangan kemandirian mereka. Mereka harus bergantung pada hal lain seperti tembok atau kedua tangan mereka."
Kebanyakan dari penderita vertigo terjatuh dan meninggal. "Risikonya sangat besar namun kita tak pernah mengetahui mengapa bisa tiba-tiba jatuh begitu," imbuhnya.
McEdwards ingin menekankan bahwa vertigo bukanlah penyakit kronis yang tak bisa disembuhkan. Bila seseorang mulai memperlihatkan gejala vertigo, ia menyarankan untuk segera menemui dokter spesialis agar kondisinya dapat segera tertangani.
Seperti halnya wanita yang kini menjadi staf pengajar di Georgia State University tersebut. McEdwards merasa beruntung ia segera menemukan diagnosis yang tepat sehingga ia bisa memperoleh terapi terbaik untuk memulihkan kondisinya. Demi menjaga kesehatannya, McEdwards pun terpaksa keluar dari pekerjaannya. Setidaknya sejak saat itu gejala vertigonya sudah lebih jarang muncul.
(lil/vta)











































