Setidaknya inilah yang dikemukakan tim peneliti dari US National Cancer Institute. Kesimpulan ini diperoleh setelah mereka mengamati 40.000-an pria dari AS yang berusia antara 55-74 tahun selama 8 tahun. Tiap partisipan juga diminta menjawab sejumlah pertanyaan misal kebotakan seperti apa yang pernah mereka alami di usia 45 tahun.
18 Persen partisipan mengaku pernah mengalami Alopecia, yang ditandai dengan hilangnya rambut di bagian depan hingga ke belakang dan menyisakan rambut di atas kedua telinga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ternyata pria yang mengaku mengalami Alopecia, berpeluang 39 persen lebih besar untuk terserang kanker prostat yang agresif ketimbang yang tidak botak sama sekali," tutur salah seorang peneliti, Michael Cook seperti dikutip dari Journal of Clinical Oncology, dan ditulis pada Rabu (17/9/2014).
Mengapa begitu? Dr Charles Ryan dari fakultas kesehatan University of California yang tidak terlibat dalam studi ini menjelaskan kebotakan karena Alopecia ini merupakan dampak dari lamanya paparan hormon testosterone ke kulit penderita.
"Masalahnya bukan di banyaknya hormon tapi kemampuan kulit untuk memproses hormon tersebut. Apalagi testosterone sudah lama diketahui dapat memicu kanker.
Namun Cook belum dapat memastikan apakah pria yang mengalami kebotakan semacam ini dijamin akan mengidap kanker prostat.
"Mungkin di masa depan, kebotakan ini akan memainkan peran penting dalam memperkirakan risiko kanker prostat pada seseorang, terutama pada pria yang rambutnya mulai rontok di usia 40-an. Mungkin mereka perlu berkonsultasi kepada dokter bila ini terjadi karena ini bisa jadi gejala peringatan awal," imbuh Cook.
(lil/vta)











































