Ketika Michaela Chalkley lahir, sang ibu, Sam melihat putrinya tak punya alis di sisi kanan wajahnya. Di usia delapan minggu, Michaela tak dapat mengangkat kepalanya. Barulah di usia empat bulan, Michaela resmi didiagnosis mengidap 'craniosynostosis', kondisi langka yang menyebabkan seorang bayi mempunyai kepala dengan bentuk yang abnormal.
Sisi kanan tengkoraknya berhenti tumbuh sehingga dahi Michaela hanya tinggal separuh. Dokter mengatakan satu-satunya cara untuk mengembalikan kondisi bocah yang kini berumur 10 bulan itu hanyalah operasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka akan memotong (kepala) dan mengangkat sebagian tengkoraknya agar dapat dibentuk ulang dan dipasangkan kembali ke kepala Michaela," terang sang ibu, Sam (26) seperti dikutip dari The Herald, Kamis (18/9/2014).
Namun yang dikhawatirkan wanita muda ini adalah bilamana anak seusia Michaela menjalani operasi semacam itu maka risiko pendarahannya akan semakin besar.
"(Bahkan) kemungkinan 90 persen ia akan butuh transfusi darah selama atau setelah operasi. Kalau tidak gangguan pada saraf mata atau otak, meskipun ini jarang terjadi," imbuh Sam.
Tak hanya itu, menurut keterangan tim dokter, kepala dan wajah Michaela akan membengkak selama lebih dari tiga minggu.
"Beruntung mereka bisa melakukan operasi untuk mengatasi masalahnya. Ia sudah mengalami gangguan pendengaran, apalagi katanya kondisi ini bisa membuat Michaela mengalami gangguan perkembangan dan penglihatan. Saya harap operasi ini benar-benar bisa menanggulanginya," tutur Sam.
Sementara menunggu putrinya mendapatkan penanganan, Sam bekerjasama dengan kelompok bernama Lucy's Head Start untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit langka ini, termasuk melakukan upaya penggalangan dana bagi mereka.
"Saya ingin meningkatkan kesadaran akan kondisi ini karena begitu banyak anak dengan 'craniosynostosis' yang tidak terdiagnosis. Padahal mereka harus didiagnosis sejak dini agar kondisinya dapat segera tertangani," tutupnya.
(lil/vta)











































