Pakar tidur dari The Sleep Consultancy, Dr Neil Stanley mengatakan bahwa kemajuan teknologi adalah hal yang tidak bisa dihindari. Hanya saja, penggunaan gadget seperti smartphone, laptop, komputer hingga televisi secara berlebihan membuat remaja dan dewasa muda sangat rentan terserang gangguan tidur ini.
"Remaja dan dewasa muda zaman sekarang sangat sulit dipisahkan dari gadget mereka. Padahal, penggunaan gadget merupakan salah satu sebab utama terjadinya DSPS ini," ujar Dr Stanley.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Ade, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa sosial media, smartphone, bermain hingga nongkrong dengan teman hingga larut malam menjadi pemicu rusaknya jam tubuh, atau yang lebih dikenal sebagai circadian system. Akibatnya, tubuh menjadi sulit ngantuk dan baru bisa tidur setelah larut malam atau dini hari.
"Remaja atau mahasiswa memang jam tubuhnya nggak normal kan. Orang tuanya sudah ngantuk jam 9 jam 10, dianya masih asik nonton TV, main game, sosial media atau hang out bareng teman hingga larut malam. Ya jam tubuhnya mengalami gangguan dong," tutur dr Ade, seperti ditulis pada Kamis (25/9/2014).
Gadget memang terbukti dapat mengganggu tidur. Bukan hanya karena faktor permainan atau kontak sosial media yang dilakukan melalui alat tersebut, namun cahaya yang dihasilkannya pun membuat tubuh tak bisa melepaskan hormon melatonin yang akan menyebabkan kantuk.
Karena itulah, dr Ade tidak melarang menggunakan gadget ketika ingin tidur. Hanya saja sebaiknya waktu pemakaiannya dibatasi dan ketika tidur gadget dimatikan.
"Sebaiknya memang kalau ingin tidur lampu kamar dimatikan. Alat elektronik seperti TV, laptop, komputer, dimatikan. Jangan lupa handphone atau smartphonenya dimatikan juga. Karena cahayanya mengganggu tubuh supaya ngantuk," ungkapnya.
(rsm/up)











































