Ahli endokrinologi dari Mount Elizabeth Hospital, Singapura, dr Alvin Ng mengatakan hilangnya berat tubuh yang terlalu cepat memiliki dampak yang tidak baik untuk tulang.
"Tulang Anda sensitif terhadap gravitasi. Tulang dapat menyesuaikan kekuatan yang dibutuhkan untuk menopang tubuh. Jadi saat ada penurunan berat badan yang drastis, beban gravitasi di tulang berkurang dan tulang kehilangan kekuatannya," kata dr Alvin saat berbincang dengan sejumlah media massa di Grand Hyatt Hotel, Jl M.H. Thamrin, Jakarta, pada Kamis (25/9/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari situs resmi NASA, nasa.gov, astronot yang menjalankan misi di luar angkasa selama setahun diketahui kehilangan kepadatan tulang rata-rata sampai 11 persen. Tulang yang paling banyak kehilangan kepadatannya adalah tulang panggul, pinggul, dan kaki.
"Karena tulang kehilangan kepadatannya, maka hal ini bisa berujung pada osteoporosis," imbuh dr Alvin yang karena kontribusinya pada tahun 2009 ia ditunjuk menjadi anggota American Society of Bone and Mineral Research (ASBMR).
dr Alvin menambahkan selain risiko osteoporosis, penurunan berat yang drastis biasanya tidak akan bertahan lama dan bobot tubuh dapat kembali ke sediakala dalam waktu cepat. "Bobot tubuh bisa hilang mendadak karena ada tindakan drastis yang dilakukan. Orang-orang tidak bisa melakukan tindakan drastis ini terus menerus dan suatu saat dia akan berhenti. Saat berhenti itu bobot tubuhnya akan kembali seperti semula," papar dr Alvin.
Ia menganjurkan jika ingin menurunkan berat tubuh maka lakukan sewajarnya saja. Umumnya penurunan berat yang sehat normalnya rata-rata sekitar 2 kg per bulan. Penurunan berat dapat dilakukan dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih aktif dan menjaga makanan yang dikonsumsi.
"Cukup kurangi 500 kalori dalam sehari Anda dapat turun setengah kilogram dalam seminggu. Umumnya orang turun 2 kg per bulan, tapi bisa lebih tergantung dari bobot tubuhnya," terang dr Alvin.
(vta/vta)











































