"Karena itu penanggulangan bencana tak terbatas ketika bencana saja, tapi juga sebelum dan sesudahnya," tutur Ir Dody Ruswandi, MSCE, Deputi I bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam lokakarya Klaster Kesehatan di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (2/10/2014).
Dilanjutkan Dody bahwa aspek psikososial, yang merupakan salah satu sub klaster dari klaster kesehatan merupakan kegiatan yang memiliki program untuk penanganan korban pasca bencana. Rencananya, beberapa program terkait yang sedang dibicarakan adalah soal bagaimana membuat korban, terutama anak-anak, tidak mendapat trauma atau minimal tidak mengalami trauma berat yang berujung pada gangguan mental.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, drg Kamaruzaman, MSC Kepala Bagian TU Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) Kemenkes RI menambahkan bahwa faktor persiapan sebelum bencana tentunya tak bisa dilupakan. Caranya tentu memberikan peningkatan kapasitas atau capacity building kepada dinas dan juga masyarakat di daerah rawan bencana.
"Kita kan punya Dasipena itu. Tim Pemuda Medis Tanggap Penanggulangan Bencana yang tersebar di daerah. Mereka dari bagian masyarakatnya. Sementara dari kita ya capacity building bagi dinas-dinas terkait di daerah," tandasnya.
Ke depannya, drg Kamaruzaman juga ‎berharap adanya pelatihan berjenjang yang memungkinkan para peserta pelatihan pra bencana ini untuk melatih bagian masyarakat lain. Targetnya, masyarakat rawan bencana mengetahui apa saja yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
"Semoga ke depannya ada pelatihan turunanlah. Jadi yang sudah kita latih bisa melatih yang lain. Targetnya minimal masyarakat rawan bencana dan termasuk dinas terkait tahu bagaimana dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana," tandasnya.
(mrs/vit)











































