Mencegah hal tersebut, dr Walta Gautama, SpB(K) Onk, menyarankan agar wanita yang memasuki usia 35 tahun ke atas untuk melakukan cek menggunakan alat USG dan Mamografi. Terkadang pemeriksaan kanker dengan tes periksa payudara sendiri (SADARI) masih bisa terlewat.
"Selain SADARI tetap dianjurkan untuk mengikuti pemeriksaan USG dan mamografi. Mamografi dianjurkan untuk usia 35 tahun atau 40 tahun ke atas," kata dr Walta ketika ditemui pada jumpa pers Jakarta Goes Pink di Downtown Bistro, Gedung Landmark, Jl Sudirman No 1, Jakarta, Kamis (2/10/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Walta mengatakan meski berisiko tinggi, terkadang pasien tidak menjalani tes mamografi. Padahal tes mamografi dapat membantu mendeteksi lebih akurat keberadaan kanker payudara.
"Mamografi bisa lihat tanda-tanda meski belum ada benjolannya. Ada benjolan yang belum jadi, pra kanker namanya, kadang-kadang hanya bintik-bintik perkapuran saja dimamografi. Kalau bercak perkapurannya penuh ada di seluruh payudara, itu belum keraba, masih stadium 0, tapi bisa lansung besar enggak melewati stadium satu lagi langsung stadium 2B," papar dr Walta.
dr Walta bercerita bahwa pasiennya pernah ada yang memiliki kasus seperti itu. Sang pasien sulit untuk diminta melakukan tes mamografi karena malas dan hanya melakukan tes USG saja.
"Seringkali menganggap remeh 'saya kan baru USG kemarin, masa mammografi juga, enggak enak ah'. Padahal saya anjurkan untuk periksa USG dan mamografi. Pas cek lagi kankernya sudah besar," tutup dr Walta.
(vit/vit)











































