Terapi ini dipelopori oleh Dr Sergei Speransky, direktur Biological Studies, Novosibirsk Institute of Medicine. Dr Speransky mengatakan pasien yang datang ke kliniknya rata-rata merupakan orang yang ketagihan pada satu hal, mulai dari pekerjaan hingga seks.
Namun terapi yang diberikan tak hanya dipukul dengan kayu tapi juga konseling.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uniknya, terapi ini telah diakui sebagai terobosan baru dalam bidang psikologi di Siberia, Rusia. Dr Speransky sendiri juga menggunakan terapi yang sama untuk mengatasi depresi yang diidapnya.
Terapi serupa kemudian dilestarikan oleh rekan seprofesinya, Dr German Pilipenko dan Prof Marina Chukhrova. Keduanya mengaku kini telah berhasil menyembuhkan lebih dari 1.000 pasien dengan metode 'masokis' tersebut.
"Kami memukul pantat pasien dengan pukulan yang telah memenuhi standar medis. Ini sangat berbeda dengan yang dilakukan masokis," katanya seperti dikutip dari Siberian Times, dan ditulis pada Senin (610/2014).
Tiap pasien 'diresepkan' untuk mengikuti sesi dipukul dua kali dalam seminggu selama tiga bulan. Ini sudah termasuk konseling. Untuk sekali sesi, tiap pasien diminta membayar 3.000 roubles atau 50 poundsterling (sekitar Rp 970.000).
Usia pasien beragam, mulai dari 17 hingga 70 tahun, baik pria maupun wanita. Bagi orang yang memiliki kecanduan serius, termasuk pecandu heroin, biasanya menerima 60 kali pukulan. Namun bagi pecandu alkohol atau pecandu lainnya pukulan yang harus diterima biasanya tak lebih dari 30 kali.
Tak perlu takut luka karena tongkat kayu yang digunakan diambil dari batang pohon Willow yang fleksibel. Terapis juga menjamin takkan ada pendarahan karena prosedur ini.
Bahkan selepas terapi, pasien juga diminta menjalani pemeriksaan dengan elektrokardiogram untuk memastikan terapi pemukulan tersebut tidak menyebabkan gangguan pada jantung pasien.
"Terapi ini berhasil karena 'hukuman' semacam ini dapat merangsang otak untuk melepaskan endorfin atau hormon kebahagiaan, yang biasanya tidak dimiliki pecandu," jelas Prof Chukhrova.











































