Dunia Menghangat, DBD di Asia Mengalami Peningkatan

Dunia Menghangat, DBD di Asia Mengalami Peningkatan

- detikHealth
Kamis, 09 Okt 2014 17:01 WIB
Dunia Menghangat, DBD di Asia Mengalami Peningkatan
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Dengue fever atau biasa dikenal dengan demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit endemis di Indonesia yang biasanya datang saat musim hujan. Namun, tahun ini Indonesia tampaknya perlu ekstra waspada karena di berbagai wilayah di Asia kasus DBD mengalami lonjakan tajam.

Di wilayah selatan China misalnya yang sedang dilanda wabah DBD terparah selama dua dekade terakhir. Negeri tirai bambu tersebut kini dilaporkan memiliki sekitar 1.000 kasus DBD baru yang muncul setiap harinya.

Otoritas setempat mengatakan situasi yang kini dialami oleh China sangat parah. Sampai hari minggu lalu di Provinsi Guangdong tercatat ada 21.527 kasus infeksi DBD dengan total enam kematian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tempat lainnya di Asia seperti Malaysia dan Taiwan, kasus infeksi dan kematian oleh DBD juga dilaporkan pemerintah setempat mengalami lonjakan dibandingkan dengan tahun 2013. Di Jepang menurut agen berita Kyoto, kasus infeksi DBD bahkan telah melebihi 150 kasus dari wabah terparah yang dialami Jepang pada tahun 1945.

Dikutip dari CNN pada Kamis (9/10/2014), menurut studi yang baru saja dipublikasi beberapa minggu terakhir juga menyebutkan kasus DBD di India mengalami peningkatan dan jumlah kasusnya bisa 300 kali lebih banyak dari jumlah resmi yang dilaporkan.

World Health Organization (WHO) mengatakan adanya peningkatan jumlah kasus DBD dikarenakan suhu dunia yang semakin hangat. Kelembaban dan suhu yang tinggi membuat nyamuk dapat bertahan hidup lebih lama, sehingga meningkatkan kemungkinan untuk transmisi penyakit. Nyamuk juga dikatakan WHO menjadi lebih mampu melakukan perjalanan ke berbagai wilayah geografis yang luas.

"Tanpa upaya efektif untuk menanggulangi dan beradaptasi dari dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, masyarakat dunia akan menghadapi salah satu tantangan kesehatan yang serius," kata Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Kesehatan Keluarga, Wanita dan Anak, Dr Flavia Bustreo.

Bustreo mengatakan populasi seperti masyarakat miskin dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terkena dampak penyakit dari perubahan iklim. Penyakit seperti malaria, DBD, diare, dan malnutrisi akan membawa dampak dan konsekuensi yang besar seiring dengan perubahan iklim.

(vit/vit)

Berita Terkait