"Belum ada yang membuktikan soal hal itu. Penilitiannya ada, tapi tidak mengobati asam urat 100 persen. Mungkin karena terdapat kandungan flovanoid yang tinggi sehingga meringankan asam urat itu sendiri," ujar Abdul Mun'im, MSi, PhD, ahli herbal dari Program Pascasarjana Herbal Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia kepada detikHealth dan ditulis pada Jumat (10/10/2014).
Selain flovanoid yang terdapat pada akar sidagurih dan daun salam, beberapa peneliti mengujikan tanaman akar kucing (Acalypha Indica L) yang lebih sering digunakan untuk memperlancar pencernaan pada hewan piaraan dan daun gurahul atau kepel (Stelechocarpus Burahol) yang dahulu biasa digunakan putri raja untuk mengharumkan tubuh. Namun penelitian ini baru diujikan kepada hewan dan belum diujikan kepada manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak cuma tanaman itu yang diyakini bisa mengatasi asam urat, kumis kucing dan kaca beling pun kerap dimanfaatkan untuk mengobati penyakit tersebut. Namun menurut Abdul Mun'im, kandungan dalam kumis kucing dan keca beling hanya untuk melancarkan pencernaan, bukan untuk mengobati asam urat. Dengan dilancarkannya pencernaan, pembuangan urine pun tak terganggu.
"Kumis kucing dan kaca beling lebih untuk melancarakan peredaran air urine saja," tambahnya.
Asam urat diproduksi ketika tubuh mengolah purin dari makanan. Asam urat itu kemudian akan masuk ke dalam aliran darah dan melewati ginjal. Normalmya asam urat akan dikeluarkan dari tubuh melalui air seni. Namun, ada kalanya asam urat tetap berada dalam tubuh, menumpuk, dan terus menumpuk.
Bahaya muncul ketika di dalam tubuh tertimbun terlalu banyak asam urat. Kadar asam urat yang tinggi menyebabkan berbagai gangguan kesehatan yang pada puncaknya dapat mengakibatkan gout, alias peradangan sendi.
(rsm/vit)











































