"Tak semua orang terbantu dengan teknologi (implan koklea) ini. Selain itu harganya mahal dan untuk memasangnya butuh operasi invasif. Kalaupun Anda terlahir sudah dalam keadaan tuli, implan ini pun biasanya tak banyak membantu," tutur salah satu penemu, Scott Novich.
Bersama dengan profesornya, Dr David Eagleman, seorang pakar ilmu saraf dari Baylor College of Medicine di Houston, Texas menciptakan sebuah rompi yang diklaim dapat membantu orang yang kehilangan pendengaran agar bisa mendengar lagi lewat kulit mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Suara yang datang dikumpulkan di dalam smartphone, lalu diubah menjadi gelombang listrik di dalam rompi yang dikenakan si tuna rungu. Dari sini rompi mengirimkan 'informasi' tersebut ke otak agar pemakai rompi bisa 'mendengar'," tandas Dr Eagleman seperti dikutip dari NY Daily News, Senin (13/10/2014).
Teorinya, beberapa hari atau minggu setelah mengenakan rompi itu, otak pengguna akan menyesuaikan dirinya dengan metode input seperti ini. Sehingga alih-alih mendengar, otak belajar untuk memproses suara dengan cara merasakannya.
"Ini sama saja dengan mekanisme mendengar dengan telinga. Suara itu kan sebenarnya getaran yang diolah gendang telinga lalu diterjemahkan sebagai sinyal atau gelombang listrik yang dapat dipahami otak. Bedanya di sini getaran tersebut diterjemahkan dengan sentuhan untuk menghasilkan pengalaman serupa," terang Dr Eagleman.
Setidaknya bila berhasil dibuat, Dr Eagleman menjamin harganya akan dipatok jauh lebih murah daripada implan koklea, yakni di bawah 2.000 dollar AS (sekitar Rp 24 juta).
Untuk sementara, Dr Eagleman dan Novich harus menggalang dana lewat situs Kickstarter agar rompi ini bisa terealisasi. Targetnya, mereka harus mengumpulkan 40.000 dollar AS (sekitar Rp 488 juta) dan kini mereka baru mendapatkan sepertiganya.
(lil/up)











































