"Saat ke sini walaupun masih sepuh Pak Mahathir masih gagah perkasa padahal 5 tahun lalu berjalan saja harus dipapah. Saya tanya ternyata beliau lakukan salah satu terapi stem cell, saya tanya apa bisa dilakukan di sini. Kata dokternya bisa ya sudah saya coba," kisah Dahlan saat menandatangani MoU pengembangan stem Cell di gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Senin (13/10/2014).
"Akhirnya jadilah saya coba, gagal nggak apa-apa. Kenapa saya mau? Karena saya sudah memproklamasikan saya rela diri saya ini dijadikan 'percobaan' untuk apapun demi kemajuan ilmu pengetahuan. Toh delapan tahun lalu saya hampir divonis meninggal dunia," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini menurut Dahlan sulit terjadi jika tidak dibantu dengan terapi stem cell. Oleh karena itu, Dahlan sangat mendukung pengembangan stem cell di Indonesia. Apalagi menurutnya, kemampuan ilmuwan di Indonesia tidak kalah dengan mereka-mereka yang ada di luar negeri.
Ia menambahkan, dengan pengawalan dari lembaga pemerintahan yakni BPOM, diharapkan peneliti bisa memproses tiap tahapan ujian sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Jadi dari awal penelitian itu sudah sinkron antara pemerintah dengan peneliti. Dengan adanya pengawalan diharapkan pengembangan dan pemanfaatan stem cell di dalam negeri bisa lebih maju," kata Dahlan.











































