4 Alasan untuk Lebih Sering Angkat Beban

4 Alasan untuk Lebih Sering Angkat Beban

- detikHealth
Selasa, 14 Okt 2014 08:37 WIB
4 Alasan untuk Lebih Sering Angkat Beban
Illustrasi: Thinkstock
Jakarta - Latihan beban kerap dihindari, terutama oleh perempuan, dengan alasan takut tubuhnya menjadi kekar. Padahal, mendapatkan tubuh kekar tidak semudah itu. Malah, ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari latihan beban.

Beberapa manfaat latihan beban yang jarang disadari adalah sebagai berikut, seperti dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (14/10/2014).

1. Meningkatkan metabolisme

Illustrasi: Thinkstock
Mengangkat beban butuh energi yang besar, yang artinya butuh pembakaran kalori dalam jumlah banyak. Kabar baiknya, pembakaran kalori tidak hanya terjadi saat mengangkat beban, tetapi hingga berjam-jam setelah selesai latihan.

Instruktur fitness menyebutnya sebagai peningkatan Basal Metabolic Rate (BMR) atau laju metabolisme basal. Ini sangat menguntungkan bagi yang ingin menurunkan lemak dan berat badan.

2. Meningkatkan daya ingat

Illustrasi: Thinkstock
Sering lupa terakhir kali meletakkan kunci mobil? Atau lupa janjian makan malam dengan seseorang? Sebuah penelitian di University of British Columbia menunjukkan, latihan beban bisa meningkatkan memori otak sehingga tidak mudah lupa hal-hal sepele seperti itu. Penelitian dilakukan pada sejumlah perempuan yang diberi latihan beban 2 sesi tiap pekan, selama 6 bulan.

3. Memperkuat tulang

Illustrasi: Thinkstock
Pada perempuan yang memasuki masa menopause, risiko oesteoporosis atau pengeroposan tulang mulai mengintai. Massa tulang berkurang, begitu pula kekuatannya. Latihan beban mendorong sel-sel tulang untuk melakukan regenerasi, sehingga kepadatannya meningkat dan terhindari dari risiko mudah patah tulang.

Selain berefek langsung pada tulang, latihan beban juga melatih otot. Makin kuat ototnya, maka fungsinya dalam menunjang otot sebagai organ gerak pasif akan lebih baik. Tulang akan lebih kokoh jika ditunjang oleh otot yang kuat.

4. Menjaga berat badan

Illustrasi: Thinkstock
Sebuah penelitian di Center of Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan, orang-orang yang melakukan latihan beban secara teratur mempunyai berat badan yang lebih stabil dalam arti tidak mudah gemuk. Selain itu, pada perempuan latihan beban juga terbukti menghambat pembentukan lemak visceral, yakni lemak dalam rongga perut yang banyak dikaitkan dengan sindrom metabolik.
Halaman 2 dari 5
Mengangkat beban butuh energi yang besar, yang artinya butuh pembakaran kalori dalam jumlah banyak. Kabar baiknya, pembakaran kalori tidak hanya terjadi saat mengangkat beban, tetapi hingga berjam-jam setelah selesai latihan.

Instruktur fitness menyebutnya sebagai peningkatan Basal Metabolic Rate (BMR) atau laju metabolisme basal. Ini sangat menguntungkan bagi yang ingin menurunkan lemak dan berat badan.

Sering lupa terakhir kali meletakkan kunci mobil? Atau lupa janjian makan malam dengan seseorang? Sebuah penelitian di University of British Columbia menunjukkan, latihan beban bisa meningkatkan memori otak sehingga tidak mudah lupa hal-hal sepele seperti itu. Penelitian dilakukan pada sejumlah perempuan yang diberi latihan beban 2 sesi tiap pekan, selama 6 bulan.

Pada perempuan yang memasuki masa menopause, risiko oesteoporosis atau pengeroposan tulang mulai mengintai. Massa tulang berkurang, begitu pula kekuatannya. Latihan beban mendorong sel-sel tulang untuk melakukan regenerasi, sehingga kepadatannya meningkat dan terhindari dari risiko mudah patah tulang.

Selain berefek langsung pada tulang, latihan beban juga melatih otot. Makin kuat ototnya, maka fungsinya dalam menunjang otot sebagai organ gerak pasif akan lebih baik. Tulang akan lebih kokoh jika ditunjang oleh otot yang kuat.

Sebuah penelitian di Center of Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan, orang-orang yang melakukan latihan beban secara teratur mempunyai berat badan yang lebih stabil dalam arti tidak mudah gemuk. Selain itu, pada perempuan latihan beban juga terbukti menghambat pembentukan lemak visceral, yakni lemak dalam rongga perut yang banyak dikaitkan dengan sindrom metabolik.

(up/up)

Berita Terkait